Dua Perangkap Kematian

perangkap kematianJudul kali ini serem ya pembaca yang budiman. Namun tidak ada tujuan apapun dari penulis untuk ‘mendahului’ takdir kematian, tetapi sebuah tinjauan spiritual metafisis yang mudah-mudahan bisa menambah wawasan dan mungkin bisa membantu kita semua keluar dari keadaan darurat. Mengapa hanya dua, bukan tiga atau lebih? Sederhananya pembahasan dalam artikel ini dibatasi dan mungkin suatu saat dapat kita bahas lebih jauh lagi.

Secara anatomi tubuh manusia, otak adalah organ tubuh yang mengatur semua pergerakan atau aktivitas tubuh. Sebuah rangsangan atau munculnya gangguan yang menyebabkan masalah pada otak dapat berakibat serius, seperti hilang ingatan, pikun, sampai stroke. Lebih parah lagi jika batang otak rusak sehingga mengakibatkan kematian. Oleh sebab itu, penulis ingin berbagi dan membahas masalah super penting ini agar kita dan keluarga kita bisa lebih menghargai karunia Tuhan YME ini.

Jika dulu kita sering membahas tentang otak kiri dan otak kanan, termasuk sedikit membahas otak tengah, sekarang kita melihat secara keseluruhan dan kaitannya dengan masalah yang berpotensi mengancam kematian.  Kita mengetahui bahwa otak adalah bagian dari tubuh yang membutuhkan banyak sekali oksigen. Oksigen diserap lewat sistem respirasi atau pernafasan dan diikat dalam darah sehingga peredaran darah mengalir secara sempurna ke seluruh tubuh, termasuk menghidupi semua sel-sel, jaringan dan sebagainya. Dalam hitungan 10 detik saja, jika otak mengalami kekurangan oksigen dapat berakibat hilangnya kesadaran, apalagi hitungan menit, bukan?

Dalam artikel ini penulis tidak membahas secara medis mengenai otak, tetapi lebih kepada sebuah pengetahuan campuran antara kesehatan populer dengan spiritual metafisis yang jarang atau belum pernah dibahas.  Ada dua perangkap kematian yang layak diperhatikan sungguh-sungguh, terutama saat kita tidur, yaitu:

  1. Karena keracunan atau pengaruh obat-obat terlarang.
  2. Karena kurangnya penyerapan oksigen

Tidak hanya obat-obatan psikotropika seperti narkoba dan ecstasy, makanan pun ada yang berbahaya dan mengancam kematian otak, seperti buah durian. Buah durian memang sangat enak dan baunya yang khas membuat hampir semua orang menyukainya. Selain meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh, durian juga memiliki efek negatif terhadap otak, dan jika dikonsumsi dalam jumlah besar, dapat mengakibatkan stroke sampai kematian. Banyak yang menghubungkan kematian akibat konsumsi durian bersamaan dengn konsumsi obat-obatan tertentu seperti aspirin, namun dalam kenyataannya tidak harus demikian. Dalam kondisi misalnya perut kosong, makan durian tidak lebih baik dari minum kopi, membawa resiko tinggi.  Setelah mengkonsumsi durian tanpa terasa otak mengalami gangguan dan akhirnya sedikit demi sedikit saat tidur akan mempengaruhi koneksi sistem syaraf dengan organ-organ tubuh lainnya, sehingga ‘perintah’ dari otak kepada panca indera bisa mengalami kelumpuhan.

Secara spiritual metafisis, untuk mengembalikan tingkat kesadaran bila anggota tubuh seperti lengan/tangan dan lain-lain tidak lagi bereaksi atas perintah otak ini, bahkan mungkin sampai membuat tubuh mengalami kondisi yang disebut Out of Body Experience (ruh terasa keluar dari tubuh), maka yang perlu dilakukan adalah tetap tenang dalam posisi tidur dan fokus pada mata ketiga (ajna). Mata ketiga (ajna) yang dalam medisnya lebih dikenal dengan kelenjar Pineal,  menghasilkan melatonin, yang jika kita berdayakan atau gerakkan akan menghasilkan electromagnetic energy yang dapat menggerakkan bagian-bagian tubuh lainnya. Lakukan sinkronisasi antara mata ketiga dengan syaraf yang menuju ke lengan atau tangan satu persatu sampai ia bergerak kembali.  Jika tubuh anda masih ‘bagus’ tidak mengalami kerusakan yang cukup parah, maka ada kemungkinan anda bisa mengatasi ‘kelumpuhan’ atau ancaman kematian ini. Jika sebaliknya, walahualam, mungkin anda terancam meninggal, tanpa ada yang membantu anda jika tidak ada keluarga di dekat anda yang paham dan membawa ke rumah sakit untuk mendapatkan bantuan darurat.

Perangkap kematian kedua adalah kurangnya penyerapan oksigen dalam darah yang mengalir menuju ke otak.  Hal ini bisa disebabkan karena faktor, misalnya kita berada pada ketinggian tertentu yang memiliki kadar oksigen yang tipis, atau bahkan tidak perlu jauh-jauh, mungkin di rumah sendiri bisa terjadi. Biasanya karena faktor kurang olahraga atau kurangnya serapan oksigen karena paru-paru kurang optimal bekerja. Bisa juga karena faktor lain misalnya gangguan pada otak itu sendiri.  Dalam kondisi mengalami perangkap kematian ini, gejala yang muncul seperti adanya ‘selubung’ atau sumbatan jalur energi pada otak (kepala) dan kedua lengan. Mungkin ditambah beberapa detik berhentinya nafas.  Namun, jika kita masih memiliki ‘kesadaran’, yakni kemampuan mengamati kondisi internal atas ‘kelumpuhan’ mendadak tersebut, maka ada potensi kita dapat mengerahkan kekuatan bathin, melalui mata ketiga (pineal gland) kita untuk melakukan ‘spiritual treatment’.

Mungkin sulit untuk dipahami secara awam, karena terkait dengan spiritual metafisis.  Namun perlu digarisbawahi bahwa semua proses di atas tidak sama sekali menggunakan kekuatan dari luar tubuh seperti jin, dan sebagainya.  Mungkin bagi anda yang pernah mengikuti atau menjadi praktisi dari keilmuan esoteris seperti Reiki dan Prana Shakti akan lebih mudah jika dijelaskan.

Kita cukupkan dulu pembahasan artikel ini, dan jika anda tertarik mengetahui lebih lanjut atau ingin mengikuti konsultasi maupun training khusus dalam bentuk meditasi, tentunya dengan senang hati penulis akan membantu anda.