<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Master Holistic &#187; NLP</title>
	<atom:link href="https://masterholistic.com/category/nlp/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://masterholistic.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 12 Aug 2025 08:06:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Pikiran &amp; Membaca Super Cepat</title>
		<link>https://masterholistic.com/pikiran-membaca-super-cepat/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/pikiran-membaca-super-cepat/#respond</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2016 16:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[NLP]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2439</guid>
		<description><![CDATA[<p>Di zaman modern ini teknologi sudah begitu canggih sehingga kita tidak perlu menyalin atau mencatat ulang apa yang dijelaskan oleh guru-guru kita, misalnya dengan menggunakan alat recorder atau video. Dengan klik satu tombol saja kita sudah bisa merekam apapun kejadian, peristiwa, bahkan ilmu pengetahuan yang diajarkan. Kecanggihan teknologi itu ada karena kemampuan manusia dalam menciptakannya.  [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/pikiran-membaca-super-cepat/">Pikiran &#038; Membaca Super Cepat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2016/06/Speed-Reading.jpg"><img class=" wp-image-2440 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2016/06/Speed-Reading-1366x911.jpg" alt="speed reading" width="802" height="535" /></a>Di zaman modern ini teknologi sudah begitu canggih sehingga kita tidak perlu menyalin atau mencatat ulang apa yang dijelaskan oleh guru-guru kita, misalnya dengan menggunakan alat recorder atau video. Dengan klik satu tombol saja kita sudah bisa merekam apapun kejadian, peristiwa, bahkan ilmu pengetahuan yang diajarkan. Kecanggihan teknologi itu ada karena kemampuan manusia dalam menciptakannya.  Untuk sampai pada kemampuan  membaca super cepat, ada beberapa hal yang perlu kita pelajari dan praktekkan. Salah satunya adalah bagaimana kita meningkatkan kemampuan visual kita dan mempercepat proses pikiran kita memahami banyak hal yang tersaji dalam bentuk tulisan seperti di buku-buku, artikel-artikel online, berita di koran, dan sebagainya dalam tempo yang singkat.</p>
<p>Ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk bisa menjadi &#8216;super&#8217; dalam membaca (speed reading), antara lain:</p>
<ul>
<li>Meningkatkan motivasi diri ibarat mau ke medan perang, harus ada kemauan kuat dan keyakinan pasti bisa</li>
<li>Gunakan kemampuan inderawi kita terutama visual (penglihatan, mata) untuk berlatih membaca cepat</li>
<li>Buatlah peta pikiran dari materi bacaan, dimulai dari membaca cepat seluruh materi bacaan, kemudian buat peta pikiran menggunakan judul bab atau berdasarkan topik-topik dalam bacaan. Lalu ulangi baca sekali lagi secara menyeluruh</li>
</ul>
<p>Ada 4 macam cara membaca yang perlu kita latih, yakni:</p>
<ol>
<li>Reguler, yakni membaca dalam keadaan santai atau normal, baris demi baris, dan seterusnya</li>
<li>Skimming, yakni membaca dengan cepat dalam rangka mencari sesuatu yang khusus dalam sebuah bacaan seperti ketika kita membaca kamus atau buku telepon</li>
<li>Scanning, yakni melihat sekilas tentang isi bacaan sebagaimana kita membaca koran</li>
<li>Warp Speed, yakni teknik membaca dengan kecepatan sangat tinggi dan dengan pemahaman yang tinggi pula.  Warp Speed ini menuntut kita untuk bisa menggunakan visi periferal, menggerakkan mata denganc epat menuju bagian bawah sebuah halaman buku, misalnya, dan membalikkan halaman dengan cepat.</li>
</ol>
<p>Salah satu cara meningkatkan kecepatan mata kita adalah dengan teknik HYPERSCAN. Caranya adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Ketika membaca sebuah halaman dalam sebuah buku, kita menggunakan jari telunjuk kita bergerak cepat ke bawah halaman, dimana kita tidak membaca setiap kata, lalu pikirkan apa yang kita lihat, termasuk jika ada gambar dan diagram. Tanyakan diri kita konsep apa yang sedang kita pahami dalam halaman tersebut.</li>
</ul>
<p>Untuk melakukan tahapan-tahapan di atas, kita harus secara fisik dan mental siap, artinya kita ada motivasi kuat, kondisi fisik prima, tidak dalam kondisi berada dalam stress atau tertekan (*), dan memberi cukup waktu untuk latihan secara rutin untuk menbaca minimal 5-10 menit sehari agar kita memahami konsep yang baik dan benar.</p>
<p>Mungkin sulit untuk berada pada kondisi yang bebas dari masalah atau tekanan dewasa ini, penulis menyarankan untuk melakukan teknik relaksasi sebelum membaca termasuk misalnya teknik Emotional Freedom Technique (EFT) yang bisa sangat cepat melepas beban pikiran dan membuat diri dalam kondisi rileks. EFT juga sangat baik menunjang kesehatan fisik karena dengan tapping di titik-titik meridian tertentu bisa membuat peredaran darah mengalir baik dan mata menjadi lebih rileks dan segar.  Cara lain selain EFT adalah menggunakan kedua belah tangan yang digosok-gosokkan satu sama lain selama beberapa saat lalu ditempelkan pada mata kita yang sudah dalam kondisi tertutup, sehingga hawa hangat mengalir dan menyegarkan kembali mata yang lelah. Lebih baik pada saat yang bersamaan dilakukan visualisasi mengenai tempat yang indah misalnya di pantai atau tempat lain yang biasa membuat mata anda segar.</p>
<p>Demikian cara melatih kemampuan visual dan pikiran kita dalam meningkatkan kemampuan super dalam hal membaca. Dengan terbiasa melatih membaca (super) cepat ini maka kemampuan otak dalam memproses informasi yang diterima secara visual akan meningkat tajam, tentunya dengan secara rutin berlatih dengan benar.  Hal ini bila sudah mencapai tingkat tinggi akan membuat kita memiliki tidak hanya kemampuan membaca super tetapi akan meningkatkan kemampuan lain termasuk dalam proses berpikir dan imajinasi yang super pula.  Semoga bermanfaat !</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/pikiran-membaca-super-cepat/">Pikiran &#038; Membaca Super Cepat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/pikiran-membaca-super-cepat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meraih Damai dengan Pendekatan Holistik Spiritual</title>
		<link>https://masterholistic.com/meraih-damai-dengan-pendakatan-holistik-spiritual/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/meraih-damai-dengan-pendakatan-holistik-spiritual/#respond</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2016 07:13:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[NLP]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2197</guid>
		<description><![CDATA[<p>Selamat Tahun Baru 2016 bagi semua pembaca artikel dan followers lainnya dari situs masterholistic.com baik di Indonesia maupun di manca negara.  Tahun 2016 merupakan tahun penuh harapan sekaligus tahun penuh tantangan. Banyak sekali harapan-harapan baik, kemajuan yang diharapkan oleh semua individu maupun semua negara.  Namun, tak pelak lagi tumpukan masalah yang membekas akibat konflik antar [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/meraih-damai-dengan-pendakatan-holistik-spiritual/">Meraih Damai dengan Pendekatan Holistik Spiritual</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2016/01/damai.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2198" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2016/01/damai.jpg" alt="damai" width="900" height="726" /></a></p>
<p>Selamat Tahun Baru 2016 bagi semua pembaca artikel dan followers lainnya dari situs masterholistic.com baik di Indonesia maupun di manca negara.  Tahun 2016 merupakan tahun penuh harapan sekaligus tahun penuh tantangan. Banyak sekali harapan-harapan baik, kemajuan yang diharapkan oleh semua individu maupun semua negara.  Namun, tak pelak lagi tumpukan masalah yang membekas akibat konflik antar individu yang menyangkut SARA dan kepentingan politis juga tidak bisa dianggap remeh.</p>
<p>Marilah kita lihat dari sudut pandang holistik spiritual yang menempatkan semua individu ke dalam sosok subyek yang memiliki nalar, akal budi serta ruh yang mencintai kedamaian, hidup berdampingan tanpa dirusak oleh ego pribadi yang menyangkut ragam kepentingan. Dalam artikel ini penulis akan membawa pembaca mencapai transformasi dengan cara sederhana melalui teknik disosiasi agar bisa mencapai kedamaian secara holistik spritual sekaligus menumbuhkan sisi positif yang membawa kita pada keseimbangan dan keselarasan baru.</p>
<p>Begitu indahnya saat kita kembali membayangkan seandainya semua bayi terlahir dalam kondisi suci ibarat air jernih adalah diri kita semua dan kondisi bathin ini mampu &#8216;membasahi&#8217; tenggorokan dan menghilangkan &#8216;dahaga&#8217; akibat kurangnya cinta kasih dan kasih sayang. Bayi-bayi yang lucu, mungil dan menggemaskan mampu menyapu bersih emosi, amarah, kecemasan dan lain-lain seketika kita melihat mereka.  Itulah salah satu anugrah dari Tuhan YME kepada semua pasangan suami istri, sekalipun mereka lelah maupun ada kemarahan satu dengan yang lain, namun semua masalah menjadi &#8216;hambar&#8217; atau seketika pudar ketika mereka melihat bayi mereka.</p>
<p>Belajar dari kepolosan, kesucian dan kesucian seorang bayi adalah upaya holistik spiritual yang sangat baik kita lakukan ketika sedang menghadapi berbagai tekanan dan masalah.  Kita jadikan diri kita pengamat, kita lakukan &#8220;disosiasi&#8221; saat sedang menghadapi tekanan dan masalah, dengan membawa sang Ego kita ikut merasakan pesan-pesan damai dari peristiwa itu.  Jika kita bisa mentransformasikan diri  maka ia akan &#8216;menyadari&#8217; bahwa di balik keindahan ada kelembutan, bukan kekerasan atau konflik seperti yang selama ini ditampilkan oleh sang Ego. Saat terjadi transformasi holistik spiritual, maka kedamaian dapat dirasakan bahkan dapat menjernihkan pikiran kita yang selama ini mungkin terjebak pada sikap ingin menang sendiri, ingin menang sendiri, dan sebagainya.  Sifat dan penampilan bayi mungil itu mengandung makna yang dalam yang mampu mendamaikan hati dan pikiran kita.</p>
<p>Kedamaian juga dapat kita peroleh dari sosok seorang Ibu. Sosok seorang ibu yang sejati, tidak ubahnya seperti embun atau pohon yang menaungi hati yang sedang gelisah.  Seorang ibu layak mendapatkan penghargaan tertinggi kemanusiaan karena sejak ia mengandung sampai melahirkan, ia tidak pernah merasa terganggu dengan janin dan anak yang ia lahirkan. Bahkan ia dengan bahagia menyatakan sukacitanya memiliki seorang anak.  Bahkan ketika sudah terlahirpun, bagi seorang ibu, anak tidak dapat terlepas dari curahan cinta dan kasih sayangnya. Oleh sebab itu jalinan kasih sayang ibu dan anak berlaku kekal bahkan ia dan anaknya bisa memiliki kemampuan telepatik saat salah satu menghadapi bencana atau masalah.  Ini adalah karunia Tuhan YME yang patut dijadikan solusi ketika kita sedang menghadapi berbagai masalah dan tekanan.  Sudah sewajarnya kita tidak boleh berputus asa, kita tidak boleh &#8216;merusak&#8217; diri kita sendiri dengan berbagai tindakan yang merugikan.  Cobalah kita berpikir dan bertindak sebagaimana kita bisa menempatkan diri sebagai pengayom, pelindung dan pemberi cinta kasih dan kasih sayang.</p>
<p>Pelajaran holistik spiritual dari seorang Ayah juga bisa memberikan kita sebuah ketegaran sikap, proteksi dan tanggungjawab moral atas perkembangan dan kebahagiaan keluarga.  Seorang Ayah sejati rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan secara moral diberikan kepercayaan dalam struktur sosial sebagai pengambil keputusan dan pemimpin dalam keluarga.  Sikap dan sifat ini juga kita butuhkan saat kita lemah atau merasa tidak sanggup tampil menjadi pelindung dan pemimpin.  Dalam realita yang dihadapi sekarang ini dibutuhkan ketegaran dan kemampuan bersikap yang bijak.  Inilah yang merupakan esensi dari figur seorang Ayah, bukan seorang orang tua yang temperamen, egois dan cerminan buruk lainnya.</p>
<p>Kedamaian dari sudut pandang holistik spiritual mengandung makna yang dalam, sebuah hakekat keseimbangan keselarasan baik mikro dan makrokosmos.  Ketika kondisi mental kita siapkan memasuki transformasi holistik spritual seperti yang diuraikan di atas, maka kedamaian bisa kita raih, baik sebagai renungan untuk diri sendiri maupun keterkaitan kita dengan individu lain.  Ketika kita berada di bawah satu keluarga besar &#8216;jagad raya&#8217; (universe), maka diri kita akan tenang, damai dan tidak membutuhkan perang atau konflik bathin yang selama ini dipertontonkan oleh sang Ego.  Pencapaian spiritualitas sejati murni karena kita merasakan kebahagiaan, kenyamanan dan kedamaian bersama dengan orang-orang lain, bahkan dengan makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan YME.  Ketika kondisi mental (state) ini tercapai, maka kita pun bisa meningkatkan toleransi dan saling membantu satu dengan lainnya tanpa sekat-sekat yang selama ini menjadikan &#8216;ego&#8217; kita berada dan berjalan bagaikan &#8216;katak dalam tempurung&#8217;.</p>
<p>Semoga bisa kita ambil hikmah dari artikel yang sederhana ini. Selamat menjalani tahun 2016 ini dan semoga kita bisa mentransformasikan diri mencapai pencerahan holistik spiritual bersama. Amin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/meraih-damai-dengan-pendakatan-holistik-spiritual/">Meraih Damai dengan Pendekatan Holistik Spiritual</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/meraih-damai-dengan-pendakatan-holistik-spiritual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Provokasi Pikiran Vs Positive Mindset</title>
		<link>https://masterholistic.com/provokasi-pikiran-mindset/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/provokasi-pikiran-mindset/#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2015 07:48:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2004</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia provokasi didefinisikan sebagai berikut: Provokasi adalah perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut; penghasutan; pancingan Mungkin zaman sudah banyak berubah. Jika dulu di kalangan generasi tua, nilai dan norma sosial terus dijaga termasuk moralitas, sedangkan akhir-akhir ini berbagai kata yang berkonotasi negatif atau image buruk malah menjadi trend mulai dari nama [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/provokasi-pikiran-mindset/">Provokasi Pikiran Vs Positive Mindset</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/09/joker.jpg"><img class=" wp-image-2005 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/09/joker.jpg" alt="joker" width="484" height="224" /></a>Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia provokasi didefinisikan sebagai berikut:</p>
<blockquote><p><strong><em>Provokasi adalah perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut; penghasutan; pancingan</em></strong></p></blockquote>
<p>Mungkin zaman sudah banyak berubah. Jika dulu di kalangan generasi tua, nilai dan norma sosial terus dijaga termasuk moralitas, sedangkan akhir-akhir ini berbagai kata yang berkonotasi negatif atau image buruk malah menjadi trend mulai dari nama makanan seperti nasi  &#8216;gila&#8217;,  &#8216;setan&#8217;, &#8216;klojotan&#8217; dan sebagainya. Namun inilah fakta perubahan &#8216;sense&#8217; dimana kata atau kalimat yang vulgar, memiliki kesan provokatif, mendapatkan perhatian dari banyak kalangan khususnya anak-anak muda.   Apakah sedemikian besar &#8216;manfaat&#8217; atau &#8216;prestise&#8217; yang diperoleh dengan menikmati semua kata atau frasa yang &#8216;provokatif&#8217; itu?  Mungkin di satu sisi terkesan &#8216;challenge&#8217; (menantang), tapi jika kita mencoba melatih &#8216;rasa&#8217; mungkin kata-kata tersebut memiliki kesan yang tidak menyenangkan bagi orang lain.</p>
<p>Artikel ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan popularitas masakan tertentu, namun karena bersifat pemberdayaan diri, maka penulis mengupas sisi lain yang bisa memberikan persepsi berbeda khususnya untuk pembelajaran berbahasa dan menjaga keseimbangan antara pikiran dan rasa bagi mereka yang ingin melihat sisi lain terutama nilai-nilai dan norma sosial bangsa kita yang sejak dulu terkenal dengan kesopanan dan kesantunan yang telah membentuk pribadi-pribadi luhur.</p>
<p>Provokasi pikiran terhadap nilai etika dan moralitas bisa menimbulkan hal buruk, antra lain:</p>
<ol>
<li>munculnya prasangka buruk,</li>
<li>justifikasi sepihak dan</li>
<li>&#8216;character assasination&#8217;.</li>
<li>Bias dalam pemikiran karena baik dan buruk sudah tidak lagi &#8216;terasa&#8217; dan empati tidak lagi &#8216;muncul&#8217; ketika melihat berbagai penderitaan atau kezoliman</li>
</ol>
<p>Sebenarnya tanpa mempelajari atau mendapatkan &#8220;provokasi pikiran&#8221; secara masif, manusia pada dasarnya terus mengalami degradasi moral akibat berbagai faktor seperti:</p>
<ol>
<li>Himpitan faktor ekonomi,</li>
<li>Pendidikan rendah</li>
<li>Pergaulan atau berada pada lingkungan yang tidak memberdayakan</li>
<li>kepentingan &#8216;politis&#8217;</li>
</ol>
<p>Situasi dan kondisi di atas jika ditambah dengan provokasi maka akan berpotensi menyebabkan &#8216;benturan&#8217; atau friksi.  Adalah tanggungjawab pemerintah dan masyarakat untuk bahu membahu mengatasi keprihatinan sosial ini dan tidak menyebar benih-benih perpecahan.</p>
<p>Dari pengamatan penulis sebagian masyarakat modern dewasa ini cenderung mengalami provokasi pikiran dari berita, media sosial, pusat-pusat hiburan dan lain-lain yang pada dasarnya memiliki kepentingan untuk mendongkrak popularitas, menjatuhkan lawan bisnis, dan sebagainya.  Oleh sebab itu, bagi kita yang masih menjunjung tinggi etika dan moralitas sudah selayaknya berpikir lebih cermat dan matang agar tidak &#8216;tersesat&#8217; ketika membaca sebuah berita atau menindaklanjuti suatu masalah yang muncul.</p>
<p>Untuk kembali pada pola pikir atau mindset yang memberdayakan (positive mindset) dan membangun kembali etika dan moralitas, kita perlu memiliki prinsip hidup yang baik dan jelas, sekalipun itu berakibat kita harus mengorbankan kesenangan duniawi seperti tidak menjadi orang kaya raya.  Menjadi orang sukses materi (kaya raya) tentunya tidak ada larangan jika tidak dengan cara menghalalkan segala cara dan merugikan orang banyak. Bahkan dengan prinsip hidup dan menjaga etika dan moralitas, orang-orang kaya raya malah bisa membantu lebih banyak orang.</p>
<p>Penulis teringat pada lagu Iwan Fals yang berjudul &#8220;Bento&#8221; dan bisa menjadi cerminan perilaku para koruptor yang merupakan orang munafik papan atas.  Alangkah indahnya dunia ketika kita bisa merenung dan mengambil hikmah dari lagu Ebiet G.Ade yang berjudul &#8220;Untuk Kita Renungkan&#8221; agar kita bisa perlahan namun pasti merubah diri kita menjadi lebih baik dan mengalami tranformasi moral yang baik.  Bagaimana dengan para pembaca? Apakah sudah memiliki lagu favorit dan sudah memahami arti dan makna dari lagu tersebut?</p>
<p>Semoga kita bisa kembali memberdayakan diri kita masing-masing agar terhindar / terlepas dari ikatan &#8216;provokasi pikiran&#8217; dari orang-orang yang memiliki agenda atau kepentingan tertentu yang dapat merusak etika dan moralitas hidup kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/provokasi-pikiran-mindset/">Provokasi Pikiran Vs Positive Mindset</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/provokasi-pikiran-mindset/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Misteri Masa Depan</title>
		<link>https://masterholistic.com/misteri-masa-depan/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/misteri-masa-depan/#respond</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2015 03:59:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=1998</guid>
		<description><![CDATA[<p>Banyak cara atau teknik yang digunakan orang dalam usaha mencari tahu apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang padahal masa depan sendiri masih merupakan misteri yang tidak bisa di &#8216;crack&#8217; seperti belajar ilmu pengetahuan biasa. Ada yang menggunakan teknik yang disebut Palmistry (ilmu membaca telapak tangan), Numerology (ilmu menggunakan angka-angka misalnya dari tanggal, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/misteri-masa-depan/">Misteri Masa Depan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/09/peramal.jpg"><img class=" size-medium wp-image-1999 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/09/peramal-300x174.jpg" alt="peramal" width="300" height="174" /></a>Banyak cara atau teknik yang digunakan orang dalam usaha mencari tahu apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang padahal masa depan sendiri masih merupakan misteri yang tidak bisa di &#8216;crack&#8217; seperti belajar ilmu pengetahuan biasa. Ada yang menggunakan teknik yang disebut Palmistry (ilmu membaca telapak tangan), Numerology (ilmu menggunakan angka-angka misalnya dari tanggal, bulan, tahun lahir dan dikaitkan dengan jumlah digit pada nama kita), Kartu Tarot bahkan yang paling mudah adalah dengan menggunakan Pendulum. Apakah semua metode ini memiliki hasil yang akurat?</p>
<p>Sebenarnya metode yang dibuat manusia untuk mengetahui masa depan itu tidak ada yang sempurna karena ada variabel &#8216;unknown&#8217; atau yang tidak diketahui misalnya kondisi atau kejadian yang melibatkan faktor eksternal seperti hukum sebab-akibat yang sulit diterjemahkan untuk semua kejadian secara presisi. Di samping itu, faktor misteri dari &#8220;waktu&#8221; yang terus berjalan tidak bisa dijadikan variabel konstan. Kita hanya tahu apa yang telah terjadi atau dirasakan tapi itupun belum utuh.  Faktor internal yang &#8216;membiaskan&#8217; sebuah prediksi sebenarnya muncul dari persepsi dari setiap orang yang tidak bisa dilepaskan dari faktor kepentingan sampai dengan hal yang sepele yakni emosi.</p>
<p>Karena banyaknya kelemahan seperti yang disebut di atas, maka sederhananya kebanyakan orang menggunakan kekuatan pikiran bawah sadar yang tanda kutip harus &#8216;bebas&#8217; dari segala preferensi atau subyektifitas. Tapi bisakah semua orang melalukannya?  Sekalipun pikiran bawah sadar (sub-conscious mind) itu luar biasa cerdas apalagi pada anak indigo, tetap saja apa yang ingin dilihat tidak serta merta akurat untuk semua kejadian. Paling satu atau beberapa kejadian yang bisa &#8216;dibaca&#8217; atau &#8216;dilihat&#8217; dan hasilnya presisi. Sisanya?</p>
<p>Memang pada dasarnya dalam setiap agama telah dijelaskan bahwa manusia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang dan ketika terjebak pada beberapa &#8216;kebetulan&#8217;, maka akan muncul sebuah kesombongan bahkan tak jarang dalam kondisi tertentu berpotensi merusak kemauan atau mentalitas, misalnya seseorang sudah mengetahui bahwa ia akan meninggal dalam keadaan berlumur dosa, maka apa yang telah ia lakukan sekarang dengan beribadah dan beramal menjadi terpengaruh. Ia berpikir buat apa aku beribadah dan berbuat kebaikan terus kalau akhirnya aku meninggal dalam keadaan seperti itu? Padahal yang Maha Tahu adalah Tuhan YME sendiri. Sekalipun ia meninggal dengan cara mengenaskan, mungkin itu adalah bagian dari cara Tuhan mengurangi &#8216;siksa&#8217; orang tersebut di akherat kelak. Sekali lagi kita seyogyanya selalu berikhtiar terus memperbaiki diri karena dengan demikian apapun yang terjadi,  kita akan bisa menjadi lebih ikhlas dan hal itu merupakan wujud ketakwaan kita terhadap Tuhan YME.</p>
<p>Oleh sebab itu agama melarang kita untuk percaya pada ramalan apalagi meyakini apa saja yang dikatakan oleh seorang dukun, bahkan menjadi dosa dan berakibat tidak diterimanya ibadah kita selama jangka waktu tertentu.  Yang bisa diprediksi mungkin sebuah konsekwensi logis berupa hukum sebab-akibat yang jelas indikatornya. Misalnya prediksi akan melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar yang memiliki variabel internal dan eksternal yang jelas.</p>
<p>Sebenarnya daripada menghabiskan waktu untuk mencari dukun atau paranormal yang bisa membaca tentang kehidupan masa depan kita, lebih baik kita menyisihkan waktu kita untuk melakukan interospeksi diri. Dari berbagai kelemahan atau kekurangan yang kita miliki, kita berdayakan dengan cara mengubahnya menjadi sebuah kekuatan atau pemicu dari kesuksesan-kesuksesan lain dalam hidup kita. Untuk dapat melakukan hal ini tentu dibutuhkan:</p>
<ul>
<li>Niat atau keinginan kuat untuk mengalahkan sang ego dalam diri kita</li>
<li>menerima apa yang telah terjadi dalam diri kita</li>
<li>membuka pikiran dan wawasan agar kita menjadi lebih bijak, tidak seperti &#8216;katak dalam tempurung&#8217;</li>
<li>mengoptimalkan resources yang ada dan bersedia mengembangkan potensi positif yang ada</li>
<li>memetakan langkah-langkah dalam mencapai sebuah tujuan atau outcome yang akan kita raih di masa depan</li>
<li>menjalankan semua rencana dan membuka kesempatan untuk revisi apabila di tengah jalan mengalami hambatan.</li>
<li>senantiasa bersyukur atas karunia yang Tuhan berikan pada diri kita, karena baik dan buruk mengandung hikmah atau pembelajaran bagi diri kita</li>
</ul>
<p>Nah, ketika kita telah menjalankan segala langkah di atas, maka kita memiliki sebuah gambaran tentang apa yang kita akan tempuh atau hadapi. Ingatlah yang bisa kita ubah adalah yang ada dalam kendali kita.  Intinya kita tidak bisa berharap banyak mengubah orang lain sementara kita sendiri dalam masalah. Ketika kita bisa mengubah mindset kita sendiri terlebih dahulu, maka tentu hal ini lebih bermanfaat dalam membantu kita menatap masa depan. Di samping itu, kita harus yakin bahwa tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada hanya feedback sehingga kita tidak mudah drop secara psikologis.</p>
<p>Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua dan memberikan sudut pandang baru yang memberdayakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/misteri-masa-depan/">Misteri Masa Depan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/misteri-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Bijak atasi Persepsi Keliru</title>
		<link>https://masterholistic.com/cara-bijak-atasi-persepsi-keliru/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/cara-bijak-atasi-persepsi-keliru/#respond</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2015 17:29:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[NLP]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=1952</guid>
		<description><![CDATA[<p>Seringkali kita hanya melihat orang dari penampilan dan gerak-gerik tubuh (body language), padahal banyak sekali terjadi penipuan yang disebabkan kurangnya pemahaman yang baik.  Mungkin zaman dahulu bisa saja dengan mudah orang membedakan mana orang yang baik dan mana orang jahat hanya melalui penampilan, seperti pada zaman film yang dimainkan oleh Faruk Afero, sekalipun tetap saja [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/cara-bijak-atasi-persepsi-keliru/">Cara Bijak atasi Persepsi Keliru</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/09/FAT-CAT.jpg"><img class="alignleft wp-image-1953" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/09/FAT-CAT-300x161.jpg" alt="FAT-CAT" width="400" height="214" /></a>Seringkali kita hanya melihat orang dari penampilan dan gerak-gerik tubuh (body language), padahal banyak sekali terjadi penipuan yang disebabkan kurangnya pemahaman yang baik.  Mungkin zaman dahulu bisa saja dengan mudah orang membedakan mana orang yang baik dan mana orang jahat hanya melalui penampilan, seperti pada zaman film yang dimainkan oleh Faruk Afero, sekalipun tetap saja tidak bisa digeneralisasi.  Contoh lain, seorang berpenampilan menggunakan baju jas dan berdasi dan pandai berbicara belum bisa jadi jaminan ia adalah seorang kaya raya, sebaliknya seorang yang berpakaian kemeja lengan pendek biasa dan pendiam belum tentu ia adalah orang yang tidak memiliki kemampuan ekonomis lebih rendah daripada yang berjas dan berdasi.  Memang ketika melihat penampilan saja atau body language bisa membawa persepsi kita menjadi keliru.</p>
<p>Semakin sulitnya orang mendapatkan kesempatan kerja karena berbagai persyaratan formal seperti pendidikan, ketrampilan dan sebagainya menjadi salah satu sebab timbulnya kriminalitas, apalagi dengan banyaknya faktor di luar nalar sehat seperti nepotisme dan kepentingan golongan tertentu dari pemilik usaha atau orang dalam perusahaan yang berpotensi menghambat calon pekerja untuk bisa diterima seperti faktor gender, kesukuan, agama dan sebagainya yang mulai terjadi di beberapa perusahaan.  Dari kenyataan yang ada ini sebenarnya mispersepsi (persepsi keliru) yang muncul baik di kalangan pengusaha atau &#8220;orang dalam&#8221; perusahaan, antara lain karena:</p>
<ul>
<li>Adanya anggapan bahwa semua pekerja lokal kurang produktif. Padahal berita ini hanya diperoleh dari penilaian umum bahkan lebih cenderung melakukan generalisasi atas beberapa kasus saja.</li>
<li>sarjana dari perguruan tinggi di luar perguruan tinggi tertentu di Pulau Jawa tidak kompeten. Padahal sudah cukup banyak bukti yang tidak menunjang argumen tersebut, misalnya dari tes masuk di beberapa perusahaan Multi Nasional yang dilakukan secara fair.</li>
<li>ketakutan akan latar belakang seorang calon pegawai, misalnya karena adanya anggapan bahwa seorang laki-laki atau perempuan yang berperawakan atau berpakaian tertentu yang menjadi ciri dari sebuah keyakinan dianggap tidak bisa bekerja optimal. Hal ini juga kebanyakan bersifat generalisasi dan mungkin fobia saja. Persepsi keliru ini akhirnya mengakibatkan munculnya persyaratan A sampai Z yang dapat menghambat orang-orang yang dimaksud bisa diterima bekerja.</li>
<li>Orang yang berpenampilan keren dan rapih dianggap calon pegawai yang ideal. Padahal penampilan saja tidak cukup bahkan bisa menyesatkan karena setelah bekerja baru ketahuan bahwa yang bersangkutan tidak mampu bekerja seperti yang diharapkan, misalnya.</li>
<li>Orang yang memiliki Indeks Prestasi di atas 3 dianggap pandai dan bisa memahami semua pekerjaan dan tugas dengan mudah. Padahal bisa saja terjadi angka yang tertulis di atas selembar transkrip ijazah tidak murni atau tidak menjadi jaminan karena yang bersangkutan bisa saja tidak bisa bekerja sama dalam tim, misalnya.</li>
</ul>
<p>Di sisi  lain, bagi orang tua yang ingin menikahkan anaknya juga seringkali terjebak pada persepsi yang keliru karena hanya melihat penampilan saja, seperti:</p>
<ul>
<li>bahwa seorang laki-laki yang bisa membahagiakan anaknya adalah laki-laki yang sudah mapan, punya rumah dan mobil pribadi. Padahal jebakan persepsi yang keliru bisa berakibat si anak mendapatkan laki-laki yang tidak setia, atau tidak bisa memahami keluarga dengan baik.</li>
<li>bahwa seorang perempuan yang ideal menjadi calon menantu adalah perempuan yang pandai memasak dan berparas cantik. Padahal tidak bisa digeneralisasi demikian. Bisa jadi perempuan yang dimaksud malah tidak betah di rumah atau tidak setia.</li>
</ul>
<p>Masih banyak fenomena dari pengambilan keputusan berdasarkan penampilan atau gerak-gerik tubuh.  Dewasa ini semakin banyak orang pandai yang mampu menyelami kelemahan pandangan umum sehingga penyesalan demi penyesalan akan muncul setelah mengetahui hal tersebut.  Untuk itu, ada beberapa cara yang cukup efektif untuk melihat tentang kepribadian seseorang, seperti:</p>
<ul>
<li>melakukan komunikasi terlebih dahulu sebelum membuat kesimpulan atau pendapat mengenai seseorang. Biasanya lewat beberapa kali komunikasi secara langsung, akan terlihat pola kepribadian orang tersebut</li>
<li>lakukan beberapa tes sederhana yang tidak diketahui oleh orang yang kita maksud, misalnya saat berjalan dengan orang tersebut untuk makan malam atau pergi ke sebuah pertunjukan, tiba-tiba anda merasa tidak nyaman karena ada gangguan pencernaan sehingga anda membatalkan pergi bersama (sebagai tes kesabaran dan melihat watak orang tersebut)</li>
<li>meminta orang tersebut membantu anda untuk melakukan suatu pekerjaan ringan,seperti membukakan pintu,mengambilkan sesuatu atau membeli sesuatu di warung atau toko terdekat. Dari sini terlihat apakah orang tersebut berubah ekspresinya seperti menjadi marah-marah, jengkel atau bahkan meninggalkan anda. Spontanitas akan terlihat dan ini bisa menjadi salah satu referensi bagi anda melihat kepribadian seseorang.  Tetapi tentunya anda tidak perlu melakukan tes secara berlebihan juga, bukan?</li>
<li>Berikanlah kesempatan yang sama kepada semua orang yang dianggap telah memenuhi syarat sederhana secara formil, lalu lakukan tes masuk tertulis baik psikotes maupun materi yang khusus untuk calon pekerja di bagian tertentu  dan interview (khusus bagi perusahaan). Ini cukup memberikan bukti bahwa seseorang itu memiliki karakter, kapasitas dan pengetahuan yang setidaknya bisa menjadi acuan awal untuk proses penerimaan pegawai.  Hindarilah persepsi keliru dengan cara menghambat calon-calon potensial dan profesional untuk bergabung, seperti persyaratan yang tidak masuk akal.</li>
</ul>
<p>Beberapa cara bijak di atas dapat mengurangi resiko dari persepsi yang sering keliru. Perlu diingat bahwa untuk memahami seseorang tidak bisa hanya melalui penampilan atau body language saja, apalagi jika didasarkan pada faktor non teknis dan subyektif seperti suku, agama dan sebagainya. Biasakanlah umtuk melihat suatu peristiwa atau fenomena yang sedang terjadi secara utuh. Pertimbangan karena beberapa kasus yang pernah terjadi boleh saja dilakukan tetapi hindarilah subyektifitas agar keputusan yang diambil tidak menyisakan penyesalan di kemudian hari.</p>
<p>Semoga artikel ini bisa memberi manfaat bagi kita semua agar bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan atau memberi pandangan terhadap suatu fenomena atau diri seseorang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/cara-bijak-atasi-persepsi-keliru/">Cara Bijak atasi Persepsi Keliru</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/cara-bijak-atasi-persepsi-keliru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyakit Pikiran lebih berbahaya dari Penyakit Fisik</title>
		<link>https://masterholistic.com/penyakit-pikiran-lebih-berbahaya-dari-penyakit-fisik/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/penyakit-pikiran-lebih-berbahaya-dari-penyakit-fisik/#respond</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2015 00:41:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[NLP]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=1749</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kesan di masyarakat selama ini adalah penyakit lebih dominan dikaitkan dengan masalah kesehatan fisik, misalnya migrain, stroke, diabetes,  penyakit jantung, kanker dan lain-lain dan rela menghabiskan banyak uang untuk sekedar menjaga kesehatan dengan konsumsi multivitamin, suplemen makanan, sampai dengan pemakaian alat-alat khusus termasuk berteknologi tinggi untuk menjamin agar mereka senantiasa sehat dan jika sedang sakit, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/penyakit-pikiran-lebih-berbahaya-dari-penyakit-fisik/">Penyakit Pikiran lebih berbahaya dari Penyakit Fisik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/08/woman-tired-at-desk.jpg"><img class=" size-medium wp-image-1750 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/08/woman-tired-at-desk-300x200.jpg" alt="Pikiran bermasalah" width="300" height="200" /></a>Kesan di masyarakat selama ini adalah penyakit lebih dominan dikaitkan dengan masalah kesehatan fisik, misalnya migrain, stroke, diabetes,  penyakit jantung, kanker dan lain-lain dan rela menghabiskan banyak uang untuk sekedar menjaga kesehatan dengan konsumsi multivitamin, suplemen makanan, sampai dengan pemakaian alat-alat khusus termasuk berteknologi tinggi untuk menjamin agar mereka senantiasa sehat dan jika sedang sakit, dianggap sangat penting. Seolah-olah tanpa semua itu tidak akan memberikan mereka rasa nyaman dan kepastian untuk tetap sehat atau sembuh dari penyakit fisik mereka. Padahal, yang lebih penting ternyata bukan mengamankan diri dari berbagai penyakit fisik, melainkan penyakit pikiran. Kok bisa?</p>
<p>Pada dasarnya hampir 80% penyakit disebabkan oleh pikiran sebab hal ikhwal terjadinya penyakit tersebut dari apa yang kita terima melalui panca indera kita yang kemudian diproses melalui otak yang meninggalkan banyak pesan negatif dalam pikiran kita, termasuk gangguan akibat pemetaan mental yang salah akibat Deletion-Distortion dan Generalization yang secara alami mempengaruhi persepsi kita terhadap dunia luar dan diri kita sendiri. Misalnya :</p>
<ul>
<li>Dari pengalaman masa lalu ketika kita mengalami tekanan psikis dari pihak lain yang kebetulan berasal dari latar belakang tertentu yang berbeda dengan kita, maka apa yang terekam dalam pikiran kita tersebut menjadi referensi internal dari peta mental kita sehingga terjadi pola generalisasi saat menghadapi situasi dan kondisi serupa yang melibatkan orang dari latar belakang yang sama dengan sebelumnya. Generalisasi ini jelas tidak memberdayakan bahkan membuat stress berkepanjangan yang bisa mengakibatkan trauma dan penyakit psikosomatis, yakni penyakit yang berawal mula dari masalah psikologis dan akhirnya merambat menjadi masalah atau gangguan kesehatan fisik.</li>
<li>Dari apa yang dirasakan, misalnya seseorang yang dominan memiliki kepribadian melankolis, ditambah dengan berbagai cerita, film dan berbagai berita yang menyedihkan, memilukan hati, menakutkan dan sebagainya, mengakibatkn berbagai gangguan pada penyakit fisik misalnya jantung, paru-paru, liver dan sebagainya. Hal ini terjadi karena pikiran kita memposisikan diri secara keliru terhadap pemicu masalah yang menimpa kita.</li>
<li>Bagi orang yang temperamen, atau mengalami gangguan psikologis lainnya, seringkali setiap kejadian yang menempatkannya pada posisi yang tidak nyaman akan menimbulkan kekesalan dan amarah, sebuah ledakan emosi yang buruk bagi kesehatan.  Syaraf dan otot menjadi kaku atau tegang, dada terasa sesak, nafas pendek-pendek bahkan tidak jarang menguras energi tubuh sehingga muncul stress dan depresi yang mengakibatkan terganggunya organ atau bagian tubuh mulai dari sakit kepala, paru-paru, jantung, lambung, sulit BAB, dan sebagainya karena peredaran darah terganggu, oksigen tidak dapat diserah darah dan diangkut ke seluruh tubuh dengan baik mengakibatkan banyak &#8216;sumbatan&#8217; atau blok-blok energi yang menyebabkan berbagai penyakit tersebut.</li>
</ul>
<p>Masih banyak contoh lain dimana penyakit fisik banyak dipengaruhi dari masalah pada pikiran kita. Oleh sebab itu, sekarang selayaknya kita mulai sekarang menerapkan pola pikir yang sehat dan memberdayakan, misalnya:</p>
<ul>
<li>membuang prasangka buruk (su&#8217;udzon atau negative thinking) terhadap orang lain</li>
<li>memberikan kesempatan pikiran kita berkembang dengan mengikuti berbagai pelatihan pemberdayaan diri</li>
<li>meningkatkan relaksasi pikiran melalui program meditasi dan self-hypnosis yang memberdayakan diri kita</li>
<li>meningkatkan introspeksi terutama atas apa yang telah kita pikirkan, ucapkan maupun perbuat setiap hari agar kita melihat mana yang kurang pas, yang keliru dan akhirnya membuat kita memiliki pandangan buruk dan menimbulkan masalah psikologis dalam diri kita</li>
<li>menjaga keselarasan antara pikiran, peningkatan spiritualitas dan pola hidup sehat dan seimbang</li>
</ul>
<p>Semoga artikel ini dapat membantu kita menyelesaikan banyak masalah terutama dalam memperbaiki pola pikir kita yang akan banyak mempengaruhi kesehatan psikologis dan fisik tentunya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/penyakit-pikiran-lebih-berbahaya-dari-penyakit-fisik/">Penyakit Pikiran lebih berbahaya dari Penyakit Fisik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/penyakit-pikiran-lebih-berbahaya-dari-penyakit-fisik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Utamakan komunikasi, hindari Prasangka!</title>
		<link>https://masterholistic.com/utamakan-komunikasi-hindari-prasangka/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/utamakan-komunikasi-hindari-prasangka/#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2015 23:26:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[NLP]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=1664</guid>
		<description><![CDATA[<p>Manusia tidak bisa hidup sendiri dan kebutuhan untuk bersosialisasi, beradaptasi dengan lingkungan baru maupun berkembang bersama-sama merupakan prasyarat dari sebuah kesuksesan.  Namun, dewasa ini dari pengamatan penulis, dipicu dengan persaingan yang kurang sehat akibat kesulitan yang muncul dari faktor ekonomi, membuat kita hidup dalam kotak-kotak atau zona ekonomi yang berbeda, ada kelompok yang ingin mempertahankan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/utamakan-komunikasi-hindari-prasangka/">Utamakan komunikasi, hindari Prasangka!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/07/komunikasi-buruk-2.jpg"><img class=" size-medium wp-image-1665 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/07/komunikasi-buruk-2-300x263.jpg" alt="komunikasi buruk" width="300" height="263" /></a>Manusia tidak bisa hidup sendiri dan kebutuhan untuk bersosialisasi, beradaptasi dengan lingkungan baru maupun berkembang bersama-sama merupakan prasyarat dari sebuah kesuksesan.  Namun, dewasa ini dari pengamatan penulis, dipicu dengan persaingan yang kurang sehat akibat kesulitan yang muncul dari faktor ekonomi, membuat kita hidup dalam<em> kotak-kotak</em> atau<em> zona ekonomi</em> yang berbeda, ada kelompok yang ingin mempertahankan diri dalam kelompok mapan dan menengah, serta kelompok bawah dan marginal.  Dampak buruk dari pengelompokkan diri ini salah satunya adalah berkurangnya komunikasi baik antar kelompok maupun di dalam kelompok sendiri akibat persaingan yang tidak sehat, dan hal ini rentan menimbulkan prasangka-prasangka buruk yang berakibat pada rusaknya tatanan sosial kemasyarakatan, dan penyebab dari gangguan kesehatan baik psikologis maupun jasmaniah.</p>
<p>Mungkin cukup banyak prasangka-prasangka buruk dalam pikiran kita seperti:</p>
<ul>
<li><strong>Bagi kelompok mapan</strong>: kurangnya komunikasi cenderung membuat mereka melihat orang yang kemampuan ekonomi rendahnya sebagai ancaman, seolah-olah semua orang  ingin menggerogoti harta kekayaan mereka. Generalisasi ini berdampak psikologis baik bagi kelompok mapan ini sendiri maupun tanggapan atau respons mereka terhadap kelompok di bawahnya, yang bisa dilihat dari cara mereka menatap, cara berbicara, cara bersikap dan sebagainya. Sekalipun masih berusaha untuk tetap berbicara dengan baik dan memberi &#8216;senyuman&#8217; saat bertemu, namun<em> body language mereka </em>sulit disinkronkan.</li>
<li><strong>Bagi kelompok menengah</strong>: Berupaya mempertahankan diri agar tetap berusaha &#8216;safe&#8217; pada posisinya, kalau bisa meningkat, tapi tidak mau terjerembab ke bawah. Sehingga secara psikologis, mereka cenderung berupaya menjaga jarak dengan orang yang masuk kelompok di bawahnya. Komunikasi mereka memang lebih baik namun persaingan yang semakin berat dan kurang sehat mengakibatkan mereka mengurangi jam bicara dengan yang lain, bahkan tak jarang mulai muncul perasaan tidak nyaman jika berlama-lama duduk dengan mereka yang dianggap tidak memiliki <em>resources </em>yang bisa mereka barter dengan apa yang mereka miliki.</li>
<li><strong>Bagi kelompok bawah dan marginal</strong>: kesulitan ekonomi cenderung  membuat mereka menjadi minder, kurang percaya diri.  Mereka juga menjaga jarak atau mengurangi intensitas komunikasi namun sisi buruknya adalah mereka meningkatkan prasangka negatif terhadap orang lain baik yang berada pada kelompok yang sama maupun yang ada di atasnya hanya dari <em>segi penampilan</em>.  Kurangnya komunikasi ini berdampak cukup signifikan karena tanpa komunikasi dengan orang lain secara baik, maka potensi untuk mengembangkan diripun menjadi terhambat.</li>
</ul>
<p>Seyogyanya setiap orang dalam semua kelompok tidak mudah menggeneralisasi sebuah kondisi atau keadaan, tidak mudah memberikan penilaian (judgment) yang tidak berdasar, dan tidak mudah terpancing untuk <em>saling menyerang </em>baik secara sadar maupun tidak sadar misalnya dalam memberikan penyataan, menjustifikasi orang lain berdasarkan kelompok/ etnis/ agama, dan sebagainya.  Hal ini akan memperburuk kondisi yang sudah terjalin selama ini.  Tidak jarang penulis melihat dewasa ini faktor egosentris menjadi hal yang dominan dalam membuat keputusan. Hal ini berawal dari Prasangka negatif yang tidak memiliki dasar yang kuat terutama prasangka yang mucul akibat kurangnya komunikasi.</p>
<p>Jika kita berada di dalam <em>kategori </em>di atas, sudah saatnya sekarang kita berpikir ulang dan meningkatkan intensitas komunikasi yang positif dan saling memberdayakan dengan yang lain.  Kebahagiaan memang muncul dalam pikiran kita sendiri, namun tanpa komunikasi yang baik, kebahagiaan yang dirasakan hanya bersifat semu dan bahkan menjadi salah satu pencetus munculnya gangguan jiwa atau psikologis.  <strong><em>Let&#8217;s start to improve our communication and avoid negative thinking !  </em></strong></p>
<p>Semoga artikel ini bermanfaat !</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/utamakan-komunikasi-hindari-prasangka/">Utamakan komunikasi, hindari Prasangka!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/utamakan-komunikasi-hindari-prasangka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekaguman itu lumrah tapi jangan berlebihan!</title>
		<link>https://masterholistic.com/kekaguman-itu-lumrah-tapi-jangan-berlebihan/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/kekaguman-itu-lumrah-tapi-jangan-berlebihan/#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2015 08:54:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[NLP]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=1658</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dewasa ini seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pemberdayaan diri di negara kita, baik yang diperoleh dari luar negeri maupun dari trainer atau motivator dalam negeri, membuat banyak peserta menjadi terkagum-kagum atas sosok public figure tertentu apalagi jika sering tampil di layar kaca.  Kagum akan sebuah talenta, skill maupun pencitraan diri seseorang biasanya muncul secara alami, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/kekaguman-itu-lumrah-tapi-jangan-berlebihan/">Kekaguman itu lumrah tapi jangan berlebihan!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/07/einstein-2.jpg"><img class=" size-medium wp-image-1659 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/07/einstein-2-300x209.jpg" alt="Kekaguman yang membahayakan" width="300" height="209" /></a>Dewasa ini seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pemberdayaan diri di negara kita, baik yang diperoleh dari luar negeri maupun dari trainer atau motivator dalam negeri, membuat banyak peserta menjadi terkagum-kagum atas sosok public figure tertentu apalagi jika sering tampil di layar kaca.  Kagum akan sebuah talenta, skill maupun pencitraan diri seseorang biasanya muncul secara alami, namun kekaguman yang membabi-buta bisa berpotensi buruk karena self-image diri sendiri tidak bisa berkembang, bahkan bisa menjadi fans berat seumur hidup. Apakah ada yang salah dengan fenomena ini?</p>
<p>Jika kita menggunakan mata dan telinga kita apalagi melihat <em>LIKE</em> yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan di media sosial, pikiran kita mudah jatuh pada jebakan (trap) yang tidak memberdayakan, sekalipun kita menyukai kata-kata orang yang kita anggap ahli pemberdayaan diri.  Hal ini bisa terjadi karena sebagian besar tertumpu pada sosok atau figur dan tidak melakukan <em>internal check </em>apakah ada yang kurang tepat untuk diterapkan dalam diri kita atau apakah kata-kata &#8216;bijak&#8217; yang diucapkan seorang motivator atau trainer tersebut hanyalah sebuah klise, hiperbola atau mungkin &#8216;lebay&#8217;.  Agar tidak terperangkap dengan berbagai hal yang tidak memberdayakan ini, seyogyanya kita tetap berpedoman pada pengalaman, pengamatan dan pembelajaran dari hidup kita sendiri dengan melakukan perbandingan yang proporsional dengan apa yang dinyatakan para pakar tersebut.  Kebanyakan dari kata-kata yang enak didengar adalah bersifat bahasa &#8216;langit&#8217; alias &#8220;mengawang-awang&#8221;, yang dalam NLP sering disebut sebagai Milton Model. Dalam beberapa kasus, pola bahasa ini bisa membantu pemberdayaan diri, namun bagi orang-orang yang kurang cermat maka bahasa-bahasa ini bisa menjadi bumerang, sebab tidak mengkritisi kelemahan diri dan tidak mendorong terjadinya perubahan seperti yang diharapkan.</p>
<p><em>Memang sangat enak didengar ketika kita dikatakan &#8220;Luar biasa&#8230;&#8221;, &#8220;dahsyat sekali&#8230;&#8221;, &#8220;anda adalah segalanya..&#8221; dan sebagainya namun cobalah rasakan hal ini ketika disampaikan oleh bukan seorang motivator, misalnya anda bertemu dengan orang yang tidak dikenal di sebuah mal, dan orang itu tahu anda senang dipuja dan dipuji, maka anda bisa dengan mudah &#8216;terlena&#8217; bahkan tidak terasa anda mungkin mengeluarkan banyak uang untuk &#8220;membalas&#8221; pujian orang tersebut, bahkan bisa saja anda menjadi korban penipuan !</em></p>
<p>Penulis dalam artikel ini ingin menyampaikan pesan bahwa kita seharusnya selalu waspada, tapi bukan su&#8217;udzon atau negative thinking. Sekalipun kata-kata motivasi yang diucapkan oleh seorang motivator  tidak memiliki pengaruh negatif, bahkan terkesan sangat positif dalam pemberdayaan diri, namun kita perlu meningkatkan <em><strong>introspeksi dan modifikasi</strong></em> yang dibutuhkan dari apa yang kita lihat dan dengarkan, yang sesuai <em><strong>outcome yang ingin kita capai</strong></em>. karena semua orang memiliki masalah yang berbeda-beda, dan sekalipun mungkin pada tataran luar terdengar persis dengan masalah yang kita hadapi, namun pemicu terjadinya masalah, lingkungan, latar belakang pendidikan, dan sebagainya adalah hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja.</p>
<p>Bukan apa yang enak dilihat oleh mata, atau apa yang menyenangkan di dengar oleh telinga kita yang membuat kita bisa memberdayakan diri kita, namun banyak dari apa yang tidak enak dilihat dan didengar malah menjadi &#8220;obat&#8221; atau &#8220;vitamin&#8221; bagi pikiran kita dan pemberdayaan diri secara holistik sebab biasanya &#8220;yang enak-enak saja&#8221; seringkali membius kita sehingga lupa untuk mengkritik diri sendiri, sedangkan &#8220;yang tidak enak dilihat dan didengar&#8221; malah ditangkap oleh pikiran kita sebagai &#8220;obat&#8221; atau &#8220;vitamin&#8221; yang bisa mencerahkan diri kita karena rasa sakit, rasa tersinggung, dan sebagainya karena kesalahan yang telah kita lakukan bisa menyadarkan diri kita untuk segera &#8220;kembali ke jalan yang  lurus&#8221;.  Ingatlah bahwa mata diciptakan Tuhan YME bukan untuk melihat yang bagus-bagus saja, dan telinga diciptakan bukan untuk mendengar yang enak-enak saja atau yang menyenangkan hati.</p>
<p>Berapa banyak orang yang secara ekonomi sukses dan mencintai seni pemberdayaan diri, namun ketika mereka bertemu dengan orang lain, ego nya muncul dan tetap saja memandang rendah orang lain.  Berapa banyak orang yang memiliki kekuasaan atau posisi penting dan menyenangi seni pemberdayaan diri, namun ketika orang banyak menjerit mengalami kesusahan dalam hidup karena faktor ekonomi, mereka seakan-akan tidak mendengar, bahkan dengan mudahnya bersilat lidah di layar kaca atau dalam berbagai pertemuan sosial dengan masyarakat.  Inilah fakta yang perlu dicermati agar esensi dari seni pemberdayaan diri tidak hanya sekadar retorika dan omong-kosong belaka.</p>
<p>Semoga artikel ini bermanfaat !</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/kekaguman-itu-lumrah-tapi-jangan-berlebihan/">Kekaguman itu lumrah tapi jangan berlebihan!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/kekaguman-itu-lumrah-tapi-jangan-berlebihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tundukkan marah dan amarah dengan Berpikir Tenang !</title>
		<link>https://masterholistic.com/tundukkan-marah-dan-amarah-dengan-berpikir-tenang/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/tundukkan-marah-dan-amarah-dengan-berpikir-tenang/#respond</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2015 18:03:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[NLP]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=1626</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#8220;Tundukkan marah dan amarah dengan Berpikir Tenang!&#8221; merupakan judul artikel saya kali ini. Artikel ini mengandung makna filosofis yang bisa membawa kita melakukan introspeksi sekaligus menetralkan unsur &#8220;api&#8221; kemarahan kita dengan strategi berpikir.  Kemarahan yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris &#8220;Anger&#8221; berbeda dengan Amarah yang padanannya &#8220;Rage&#8221; dalam Bahasa Inggris, dimana &#8220;anger&#8221; merupakan proses kita meluapkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/tundukkan-marah-dan-amarah-dengan-berpikir-tenang/">Tundukkan marah dan amarah dengan Berpikir Tenang !</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/07/kemarahan-2.jpg"><img class=" size-medium wp-image-1627 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/07/kemarahan-2-261x300.jpg" alt="kemarahan " width="261" height="300" /></a>&#8220;Tundukkan marah dan amarah dengan Berpikir Tenang!&#8221; merupakan judul artikel saya kali ini. Artikel ini mengandung makna filosofis yang bisa membawa kita melakukan introspeksi sekaligus menetralkan unsur &#8220;api&#8221; kemarahan kita dengan strategi berpikir.  Kemarahan yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris &#8220;Anger&#8221; berbeda dengan Amarah yang padanannya &#8220;Rage&#8221; dalam Bahasa Inggris, dimana &#8220;anger&#8221; merupakan proses kita meluapkan ketidaksenangan kita terhadap orang lain namun dalam konteks kita masih bisa mengendalikan diri kita, sedangkan &#8220;rage&#8221; merupakan kemarahan yang sudah tergolong &#8220;uncontrollable&#8221; secara emosional, misalnya dengan melemparkan benda-benda tertentu, menggebrak meja, dan sebagainya.</p>
<p>Sulit untuk mencari orang yang tidak pernah marah, namun mungkin banyak orang yang tidak meluapkan marah secara berlebihan (amarah) karena mereka masih bisa mengendalikan emosinya.  Marah sesekali perlu ketika marah itu ditujukan memberikan edukasi kepada orang lain yang berbuat kesalahan atau perbuatan yang tidak pada tempatnya. Namun, jangan sampai marah sering-sering dilakukan karena marah ini akan berkembang menjadi &#8220;marah-marah&#8221; dan menujukkan karakter orang tersebut sebagai &#8220;pemarah&#8221;.</p>
<p>Secara psikologis, &#8220;marah&#8221; dan &#8220;amarah&#8221; merupakan bagian dari emosi negatif, namun ketika kita bisa mencari &#8220;lawan&#8221; nya dalam pikiran kita, maka ia bisa menetralisir blok emosi yang terjadi. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diciptakan saat marah dan amarah mulai menghampiri kita.</p>
<p>Buatlah sebuah<em><strong> jedah</strong> </em>antara proses dari meluapnya emosi sehingga tidak mencapai titik yang potential menyebabkan blok emosi yang berakibat pada ketidakseimbangan psikologis, dengan interospeksi diri.   Lawan kata (antonym) dari &#8220;marah&#8221; adalah &#8220;sabar&#8221;. Saat kita hendak marah, cepat-cepatlah membuka<em> kamus dalam pikiran kita</em>, dan <em>ketika kita melihat kata &#8220;sabar&#8221;</em>, maka yang akan terbayang adalah (a) konsekwensi jika kita tidak bisa bersabar atau melampiaskan kemarahan kita terhadap orang yang telah menjengkelkan kita, (b) kerugian bagi diri kita jika kita tidak bisa mengendalikannya, misalnya kita menjadi lebih mudah sensitif (karena muncul persepsi negatif terhadap orang tersebut). Ketika proses &#8220;marah&#8221; tersebut akhirnya keluar dan dimanifestasikan dalam perubahan neurologis dalam sistem syaraf yang ada pada otak kita, maka jedah yang muncul dari kondisi yang kita ciptakan di atas, akan mengurangi ketegangan dalam pikiran kita sehingga terjadi proses netralisir blok emosi negatif.  Kesadaran baru muncul dan merubah &#8220;marah&#8221; yang tidak produktif menjadi &#8220;marah&#8221; yang memiliki dimensi edukasi pada orang lain, yang sekaligus bisa <em>menata-ulan</em>g emosi kita.</p>
<p>Ketika kondisi pada poin di atas tidak bisa dicapai, misalnya, akibat pemicu yang bersifat multifaktorial, <em>jika marah akan berkembang cepat menjadi amarah</em>. maka ingatlah bahwa Luapan atau ledakan emosi yang kontraproduktif ini memiliki dampak sangat buruk bagi kesehatan kita, blok emosi yang disebabkan oleh amarah  menjadi salah satu penyebab dari berbagai penyakit berat seperti stroke dan serangan jantung. Amarah (rage) juga merupakan &#8220;api&#8221; yang bisa membakar atau menghanguskan unsur kayu dalam diri kita. Contoh organ yang terpengaruh adalah organ hati (liver). Ketika amarah ini sudah terjadi, ada dua proses yang terjadi yakni di tahap awal, dimana &#8220;api&#8221; amarah baru membakar sebagian &#8220;kayu&#8221;, maka cara mengatasinya adalah dengan cepat ber &#8220;istighfar&#8221;, atau <em>memohon ampun kepada Tuhan YME</em>, karena kita lalai sehingga membiarkan rasa marah yang mulanya masih bisa langsung dinetralisir,  tetapi kita <em>biarkan marah itu menjadi liar </em>dan berkembang menjadi amarah. Tanda-tanda api mulai membakar api antara lain, keluarnya kata-kata kasar, nama-nama hewan yang ada di kebun binatang, kata-kata kotor, sumpah serapah dan sebagainya.  Di tahap berikutnya saat amarah sama sekali tidak bisa dikendalikan sehingga muncul &#8220;tindakan brutal atau anarkis&#8221; seperti melempar piring, melakukan kekeasan fisik, menggebrak meja, dan sebagainya.ini berarti &#8220;api&#8221; amarah sudah terlanjut melahap semua &#8220;kayu&#8221; yang ada.</p>
<p>Lalu apakah masih ada cara untuk menetralisir blok emosi yang sudah tercipta?  Sebernarnya kata &#8220;menetralisir&#8221; tidak lagi tepat digunakan, tetapi kita lebih tepat menggunakan kata &#8220;memadamkan api&#8221; sekalipun mungkin yang tersisa tinggal &#8220;abu&#8221; saja. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, maka kejadian ini menimbulkan bekas dalam diri kita, bisa berupa gangguan kesehatan dan psikologis seperti yang telah dijeaskan pada poin sebelumnya.  Karena penyelamatan kayu sudah tidak bisa dilakukan, maka jadikanlah &#8220;abu&#8221; dari pembakaran kayu tersebut menjadi dasar untuk menata ulang diri, mengingatkan diri kita bahwa kita telah lalai (berupa introspeksi diri), bersungguh-sungguh ingin merubah diri kita dengan melatih kesabaran dari awal dan menaburkan benih-benih cinta kasih dan kasih sayang pada orang lain, termasuk kepada orang yang selama ini membuat kita jengkel dan memicu amarah kita. Selama kita masih hidup tentu masih punya peluang memperbaiki diri, apalagi kita yakin Tuhan YME menyayangi hamba-hamba Nya, bukan?  Pertama kembalilah memohon ampunan dari Tuhan YME karena kelalaian kita tersebut, lalu sadarilah hidup ini adalah pilihan, apakah kita ingin membakar semua unsur kayu di dalam diri kita sampai mati, atau kita ingin sehat dan panjang umur. Jika kita ingin pilhan kedua, maka mau tidak mau kita harus me&#8221;reframe&#8221; persepsi kita sehingga kita bisa melihat sebuah peristiwa yang menjengkelkan kita tersebut dan telah memicu amarah kita, bisa bergeser menjadi sebuah persepsi positif yang memberdayakan dengan menggunakan kecerdasan pikiran bawah sadar kita, kita  bisa berpikir <em>out of the box</em>, bukan?</p>
<p>Demikian artikel ini semoga bisa memberikan sudut pandang baru yang memberdayakan bagi semua pembaca.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/tundukkan-marah-dan-amarah-dengan-berpikir-tenang/">Tundukkan marah dan amarah dengan Berpikir Tenang !</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/tundukkan-marah-dan-amarah-dengan-berpikir-tenang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Neuro-Logical Levels: Perjalanan Hidup menuju Perubahan</title>
		<link>https://masterholistic.com/neuro-logical-levels-perjalanan-hidup-menuju-perubahan/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/neuro-logical-levels-perjalanan-hidup-menuju-perubahan/#respond</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2015 17:23:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[NLP]]></category>
		<category><![CDATA[NLP Coaching]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[<p>Neuro-Logical Levels (NLL), sebuah sebuah teknik atau konsep yang powerful untuk membuat sebuah perubahan yang dikembangkan oleh Robert Dillts. Ia berusaha untuk mencari hubungan atau menghubungkan antara aktivitas neurologis dengan tingkatan (hierarchy) yang mempengaruhinya. Dengan NLL ini kita bisa membentuk sebuah kerangka yang bisa digunakan untuk memahami perubahan (Personal Change) selangkah-demi selangkah, yang nantinya akan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/neuro-logical-levels-perjalanan-hidup-menuju-perubahan/">Neuro-Logical Levels: Perjalanan Hidup menuju Perubahan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/06/NLL.gif"><img class=" size-medium wp-image-1056 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/06/NLL-300x238.gif" alt="NLL" width="300" height="238" /></a>Neuro-Logical Levels (NLL</strong>), sebuah sebuah teknik atau konsep yang powerful untuk membuat sebuah perubahan yang dikembangkan oleh Robert Dillts. Ia berusaha untuk mencari hubungan atau menghubungkan antara aktivitas neurologis dengan tingkatan (hierarchy) yang mempengaruhinya. Dengan NLL ini kita bisa membentuk sebuah kerangka yang bisa digunakan untuk memahami perubahan (Personal Change) selangkah-demi selangkah, yang nantinya akan membawa sebuah perubahan juga terhadap orang-orang di sekitar kita dan masyarakat luas.</p>
<p>Berikut adalah 7 hierarchy dalam NLL yang bisa menjadi alat untuk membuat perubahan dalam hidup kita.  Penjelasannya sengaja saya buat sederhana saja agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.</p>
<ol>
<li><strong>Environment (lingkungan)</strong>  adalah hierarchy paling bawah. Anda harus mengenal dimana anda berada, orang-orang yang ada disekeliling anda termasuk interaksi yang dilakukan satu dengan yang lain, dan kapan waktu yang sesuai untuk itu</li>
<li><strong>Behaviors (perilaku)</strong> yakni hierarchy di atas environment. Apa yang anda kerjakan atau lakukan pada lingkungan anda, termasuk keinginan dan tindakan yang anda lakukan dapat mempengaruhi diri anda dan orang lain di lingkungan anda dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau aktivitas</li>
<li><strong>Capabilities (kemampuan)</strong> termasuk <em>skill, strategi dan talenta dan sumber daya (resources)</em> yang anda miliki yang memberi arah pada perilaku anda sehingga anda bisa mengambil tindakan.</li>
<li><strong>Beliefs (keyakinan</strong>). Ini adalah hal penting yang mempengaruhi anda dalam menjalankan rencana anda atau dalam tindakan anda. Jika anda tidak memiliki keyakinan akan berhasil, maka kemampuan apapun yang anda miliki akan mendapat hambatan. Keyakinan yang baik harus anda miliki agar anda bisa mulai menjalankan apa yang anda ingin kerjakan atau ingin anda capai.</li>
<li><strong>Values (nilai)</strong> adalah apa yang anda yakini penting bagi anda yang mempengaruhi cara hidup maupun cara kerja anda. <em>Values</em>  merupakan standar, etika, moralitas yang penting bagi anda agar sukses menjalankan usaha anda. Jika anda mengabaikan nilai-nilai (values) dalam menjalankan suatu tindakan maka anda akan mendapatkan hambatan baik menyangkut integritas anda dan menjamin kelancaran anda melaksanakan sesuatu usaha atau pekerjaan. <em>Personal Value</em> yang anda miliki tentu harus adaptatif dengan value dari lingkungan anda, misalnya ditempat kerja anda agar tidak terjadi <em>conflict</em>.</li>
<li><strong>Identity (identitas)</strong>. Identitas dalam hal ini menunjukkan siapa anda dan peranan yang anda mainkan. Identitas anda seharusnya berhubungan erat dengan cita-cita atau tujuan anda, bukan dalam arti sempit, misalnya yang bersifat temporer. Jika anda menjalankan pekerjaan anda menjadi Office Boy, itu mungkin bukanlah tujuan hidup anda. Anda bisa meningkatkan diri menjadi karyawan bagian teknik atau administrasi asalkan anda memenuhi hierarki yang ada di bawah <em>identity</em> ini.  Namun, jika anda seorang profesional, maka tunjukkanlah anda sebagai profesional, misalnya anda tidak mempan <em>disuap</em> karena anda memiliki nilai (values) profesionalisme dalam diri anda.</li>
<li><strong>Spiritual (spiritualitas)</strong>. Hierarchy tertinggi adalah spiritualitas. Ketika anda telah melalui berbagai hierarchy di bawahnya, dan anda telah memiliki identitas misalnya sebagai seorang pemimpin atau profesional, maka kesuksesan anda, atau dapat dikatakan, perubahan dalam diri anda mampu membawa perubahan dalam lingkup yang lebih luas, misalnya terhadap orang-orang di sekitar anda atau lebih luas lagi. Hal ini berhubungan dengan keyakinan atau agama yang anda miliki yang pada dasarnya anda harus berbagi kepada sesama, memberikan kedamaian dan pencerahan bagi sesama dan sebagainya.  Seorang pemimpin yang hanya berhenti pada hierarachy yang lebih bawah, biasanya tidak mencerminkan jati diri pemimpin sesungguhnya.  Begitupula seorang profesional, ketika ia tidak berkontribusi kepada sesama atau masyarakat luas, maka ia belum bisa dikatakan telah mencapai tujuan hidup yang sesungguhnya. Apakah mungkin anda hidup sendiri dengan kekayaan anda namun anda tidak mendapatkan kebahagiaan karena minus perhatian dan bantuan moril/ spirituil dari orang lain sama sekali. Bahagianya kita jika bisa mencapai titik tertinggi yakni mencapai kebahagiaan yang ridhoi oleh Tuhan YME, bukan?</li>
</ol>
<p>Ketujuh model di atas adalah bentuk standar dari Robert Dillts, namun bisa saja anda memiliki pemahaman yang berbeda, misalnya menyatukan beberapa hierarchy sekaligus dan tujuan akhirnya adalah juga spiritualitas.</p>
<p>Untuk mencapai suatu perubahan dalam hidup kita, kita perlu melihat tingkatan-tingkatan yang berpengaruh secara neurologis dalam kehidupan maupun pekerjaan atau usaha kita. Ketika terjadi hambatan, segeralah kita bertanya kepada diri kita sendiri</p>
<ul>
<li>apakah kita sudah benar berada di tempat atau lingkungan tersebut untuk mencapai tujuan hidup kita? atau mungkinkah di tempat tersebut kita bisa mengembangkan diri kita?</li>
<li><span style="line-height: 1.5;">apa yang telah kita lakukan selama ini atau apa yang harus kita lakukan untuk menunjang pekerjaan atau aktivitas kita?</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5;">bagaimana kita bisa mengerjakan suatu hal dengan baik dan benar&#8230; apa yang harus kita miliki?, </span></li>
<li><span style="line-height: 1.5;">mengapa kita mau melakukan hal ini&#8230; apakah ini tujuan kita sebenarnya? </span></li>
<li><span style="line-height: 1.5;">mengapa kita harus menanamkan keyakinan (belief) dan nilai-nilai (values) yang baik atas pekerjaan atau usaha kita sekarang?</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5;">apakah kita telah memiliki identitas seperti yang kita inginkan?  Apa identitas kita sekarang? </span></li>
<li><span style="line-height: 1.5;">Dan apakah tujuan akhir  kita setelah mencapai posisi, jabatan atas status yang kita sandang sekarang?</span></li>
</ul>
<p>Semoga artikel ini bermanfaat !</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/neuro-logical-levels-perjalanan-hidup-menuju-perubahan/">Neuro-Logical Levels: Perjalanan Hidup menuju Perubahan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/neuro-logical-levels-perjalanan-hidup-menuju-perubahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
