<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Master Holistic &#187; Filsafat</title>
	<atom:link href="https://masterholistic.com/category/filsafat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://masterholistic.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 12 Aug 2025 08:06:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Pencerahan Bathin Tanpa &#8220;Kemelekatan&#8221;</title>
		<link>https://masterholistic.com/pencerahan-bathin-tanpa-kemelekatan/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/pencerahan-bathin-tanpa-kemelekatan/#respond</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2016 16:07:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2470</guid>
		<description><![CDATA[<p>Seorang pencari pencerahan bathin adalah orang yang mau melepaskan apapun &#8216;belenggu&#8217; bathin yang dia miliki seperti kemelekatan. Seperti namanya &#8220;kemelekatan&#8221; adalah sesuatu yang bersifat kesenangan duniawi yang mungkin secara sadar maupun tidak kita sadari membuat kita sulit memasuki pencerahan bathin. Kemelekatan terhadap harta kekayaan, terhadap hewan ternak, dan sebagainya sampai kemelekatan terhadap orang dekat, keluarga [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/pencerahan-bathin-tanpa-kemelekatan/">Pencerahan Bathin Tanpa &#8220;Kemelekatan&#8221;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2016/08/soul-attachment.jpg"><img class=" size-full wp-image-2471 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2016/08/soul-attachment.jpg" alt="soul attachment" width="640" height="469" /></a>Seorang pencari pencerahan bathin adalah orang yang mau melepaskan apapun &#8216;belenggu&#8217; bathin yang dia miliki seperti kemelekatan. Seperti namanya &#8220;kemelekatan&#8221; adalah sesuatu yang bersifat kesenangan duniawi yang mungkin secara sadar maupun tidak kita sadari membuat kita sulit memasuki pencerahan bathin. Kemelekatan terhadap harta kekayaan, terhadap hewan ternak, dan sebagainya sampai kemelekatan terhadap orang dekat, keluarga dan pekerjaan menjadikan kita sulit bertransformasi.</p>
<p>Hilangnya kemelekatan (attachment) adalah syarat utama memasuki pencerahan bathin. Ia hanya bisa dicapai ketika kita tidak ada gangguan yang membuat hidup kita tergantung padanya (makhluk, benda, harta, dan lain-lain). Ibarat kata kita untuk kembali ke titik NOL kita harus me &#8216;refresh&#8217; diri kita sendiri, misalnya dengan menjauhi hal-hal yang menjadikan kita &#8216;melekat&#8217; baik yang membawa keburukan bahkan kebaikan duniawi.  Contohnya, kemelekatan yang membawa keburukan duniawi (secara bathin) adalah kemelekatan akan nafsu-nafsu rendah seperti nafsu ingin menaklukkan orang lain, memuaskan syahwat, menonjolkan diri (sombong), bangga dengan kebodohan, dan sebagainya.  Sedangkan kemelekatan yang membawa &#8216;kebaikan&#8217; duniawi termasuk kemelekatan pada sesuatu hal, benda, dan sebagainya sehingga dengannya kita memperoleh kekayaan dengan mudah. Beberapa contoh adalah kebiasaan memberikan pinjaman dengan bunga (riba), menjual senjata atau racun untuk membunuh, mencari kekayaan dari cara memanfaatkan tuyul, nyupang, dan sebagainya. Maksud &#8216;Kebaikan&#8217; duniawi di sini maksudnya kebaikan hanya untuk memberikan kepuasan hidup di dunia, tetapi tidak untuk di akhirat.  Sedangkan kebaikan dunia dan akhirat adalah perbuatan baik di dunia misalnya dengan mengajar ilmu bermanfaat yang bisa membantu sesama dan menambah pahala atau karma baik. Di samping itu, kebaikan dunia dan akhirat adalah beribadah kepada Sang Pencipta dengan keikhlasan penuh, rasa puji dan syukur atas nikmat yang Dia berikan,  tanpa embel-embel.</p>
<p>Saat kita terlena dengan kenikmatan duniawi, belenggu dari &#8216;kebaikan&#8217; duniawi berupa harta kekayaan maka yang harus kita pertimbangkan adalah apakah kita siap melepaskan diri dari ikatan &#8216;kemelekatan&#8217; itu?  Jika tujuan kita murni karena Tuhan, maka kita harus siap melepaskan semua yang dibenci Tuhan.  Dengan mencari rezeki yang berkah, sekalipun tidak sebanyak dari yang kita dapatkan dengan jalan yang tidak diridhoi Tuhan, maka kita akan mudah melakukan transformasi diri menuju pencerahan.  Tidak mustahil seorang yang hidupnya sederhana dari jalan yang diridhoi Nya untuk masuk Surga Nya, namun akan sulit bagi orang kaya dari hasil yang tidak diridhoi Nya masuk ke tempat yang sama, bahkan terbuka pintu Neraka bagi Nya.  Untuk mendapatkan harta yang berkah tidak hanya dilihat &#8216;kemana&#8217; harta dipergunakan, tetapi juga &#8216;darimana&#8217; harta tersebut berasal.  Ketika kita mendapatkan harta dari cara atau jalan yang &#8216;haram&#8217;, maka sulit berharap doa-doa kita mencapai tingkatan spiritualitas yang lebih tinggi bisa kita wujudkan.  Ibarat &#8216;Air kotor&#8217; tidak bisa membersihkan &#8216;kain yang kotor&#8217;.</p>
<p>Semoga kita semua mencapai pencerahan dari artikel yang saya buat kali ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/pencerahan-bathin-tanpa-kemelekatan/">Pencerahan Bathin Tanpa &#8220;Kemelekatan&#8221;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/pencerahan-bathin-tanpa-kemelekatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Pencerahan Bathin yang Paripurna</title>
		<link>https://masterholistic.com/menuju-pencerahan-bathin-yang-paripurna/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/menuju-pencerahan-bathin-yang-paripurna/#respond</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2016 15:21:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2376</guid>
		<description><![CDATA[<p>Seringkali kita mendengar kata pencerahan, namun mungkin sebagian dari kita belum memahami makna dari pencerahan itu sekalipun mungkin sudah mengetahui definisinya. Pada kesempatan ini penulis ingin berbagi sedikit pengetahuan yang penulis miliki dengan harapan kita memiliki pandangan yang lebih baik, setidaknya dalam kehidupan kita ini. Penulis lebih senang memahami sesuatu, entah itu kata, frasa, kalimat, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/menuju-pencerahan-bathin-yang-paripurna/">Menuju Pencerahan Bathin yang Paripurna</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2016/05/spiritual-enlightenment.jpeg"><img class=" wp-image-2377 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2016/05/spiritual-enlightenment.jpeg" alt="spiritual-enlightenment" width="507" height="317" /></a>Seringkali kita mendengar kata pencerahan, namun mungkin sebagian dari kita belum memahami makna dari pencerahan itu sekalipun mungkin sudah mengetahui definisinya. Pada kesempatan ini penulis ingin berbagi sedikit pengetahuan yang penulis miliki dengan harapan kita memiliki pandangan yang lebih baik, setidaknya dalam kehidupan kita ini.</p>
<p>Penulis lebih senang memahami sesuatu, entah itu kata, frasa, kalimat, ungkapan, dan sebagainya bukan dari kata per kata secara harfiah, namun melihat apa yang ada di balik kata tersebut, sebuah makna yang tersirat.  Untuk bahasan kita kali ini adalah terkait pencerahan bathin yang paripurna. Wah mungkin sahabat-sahabat Master Holistic Center bertanya-tanya, begitu berat dan dalamkah makna pencerahan itu ?  Namun, dengan segala keterbatasan, penulis mencoba menguraikannya dengan beberapa kalimat sederhana.</p>
<p>Pencerahan dari kata dasar &#8220;Cerah&#8221;, jika kita ibaratkan dengan kehidupan di alam semesta ini, bentuk cerah itu lebih menuju ke arah &#8220;cahaya&#8221;, sebuah fakta penting bahwa hidup akan berlangsung dengan adanya ciptaan Tuhan YME berupa matahari, sebuah bintang kerdil yang memancarkan cahaya atau sinarnya untuk menghidupi manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Dengan demikian, pencerahan seyogyanya membawa nilai-nilai kehidupan, bukan menuju pada keburukan dan kematian.</p>
<p>Bathin bukanlah sebuah organ dalam tubuh manusia, melainkan sebuah kata yang di dalamnya tersirat makna &#8216;jiwa&#8217;, sebuah &#8216;wadah&#8217; abstrak yang bernilai dan menjadi &#8216;alat&#8217; dimana kita bisa mengasahnya, membersihkannya dan mencerahkannya dengan berbagai cara terutama bersifat spiritual. Bathin bisa dikaitkan dengan rasa, sebuah pemaknaan jiwa atas sesuatu yang ditangkan pikiran dan akal budi. Dalam ajaran sufiisme, kekotoran bathin bisa dibersihkan dengan dzikir. Dalam kepercayaan lain, kekotoran bathin bisa dibersihkan lewat meditasi, perenungan, kontemplasi dan sebagainya. Bathin yang cerah atau tercerahkan adalah bathin yang menerima suatu realita dalam bentuk rasa atas nilai-nilai yang baik, dan dibimbing oleh kekuatan atau kuasa Ilahiah.</p>
<p>Paripurna merujuk pada suatu kondisi yang sempurna, cerah dalam tingkat tinggi bahkan tak bisa diukur dengan kata-kata maupun rasa karena semua sudah terpenuhi.  Pada dasarnya selama masih memiliki sifat dasar manusiawi yang lebih dominan daripada Ilahiah, maka pencerahan paripurna ini jauh dari pencapaian.  Pencerahan bathin yang paripurna mungkin lebih tepat kalau kita contohkan, misalnya pencerahan yang telah dimiliki oleh orang-orang suci. Namun, apakah kita tidak bisa mencapainya? Apakah kita hanya membiarkan diri kita mengikuti arus kehidupan ini, seperti daun yang ditiup angin?</p>
<p>Dari pengamatan dan pendapat pribadi penulis, dalam kaca mata universal, pencerahan bathin yang paripurna itu tidak mustahil bisa kita raih. Memang ada proses yang harus kita lewati, mulai dari pembersihan bathin dari kotoran-kotoran seperti kesombongan, iri hati, dendam, benci, dan lain-lain. Banyak hal yang disebabkan oleh kemelakatan diri (attachment), dan sebagian lagi berada pada tataran spiritual yang tak terlihat oleh orang lain.</p>
<p>Setelah sering &#8216;dibersihkan&#8217;, bathin kita &#8216;sirami&#8217; dengan menerima banyak pengetahuan, pemahaman dan pengalaman yang mencerahkan agar kita bisa keluar dari kebodohan bathin. Namun, kita tidak boleh hanya &#8216;menerima&#8217; tetapi kita wajib mengamalkannya dalam kehidupan kita. Jika ini terjadi dan proses pencerahan mulai berputar, ibarat roda pedati, kita mulai menerima sinyal-sinyal yang lebih tinggi, berupa kesadaran kosmik dari alam semesta dan kesadaran Ilahiah.  Ketika menerima sinyal-sinyal tersebut, kita masih diberi pilihan, apakah mau &#8216;didiamkan saja&#8217;, atau &#8216;dijalani&#8217; agar kita mencapai keselamatan dan ridho dari Sang Pencipta.  Pengamalan ini haruslah selaras dari tiga saluran utama kekuatan bathin, yakni pikiran, ucapan dan perbuatan kita.</p>
<p>Dengan demikian, dapat kita simpulkan, bahwa pencerahan ada dua dimensi, yakni usaha/ upaya untuk melakukan proses transformasi bathiniah dan pengamalan dari bimbingan yang kita terima melalui sinyal-sinyal Ilahiah, sehingga pemahaman bathin mencapai kondisi paripurna, tidak lagi terkontaminasi oleh kekotoran dan kebodohan bathin.  Pencerahan bathin yang paripurna hakekatnya kita keluar dari &#8216;ego&#8217; menuju tubuh ilahiah yang telah cerah/ tercerahkan.  Semua bentuk-bentuk pikiran, sehebat apapun kita, se jenius apapun kita, dengan jutaan kosa kata yang kita pelajari, pada titik ini tidaklah menjadi bahan perdebatan karena bathin telah mencapai kedamaian sejati. Hidup dan mati adalah proses yang kedua-duanya menjadi kebahagian dimana muncul kepasrahan diri menuju cahaya Ilahi dan kondisi bathin yang menyejukkan.</p>
<p>Semoga bermanfaat dan mari kita bersama-sama menuju pada pencerahan bathin yang paripurna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/menuju-pencerahan-bathin-yang-paripurna/">Menuju Pencerahan Bathin yang Paripurna</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/menuju-pencerahan-bathin-yang-paripurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Pusat Vibrasi Energi Tubuh</title>
		<link>https://masterholistic.com/inilah-pusat-vibrasi-energi-tubuh/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/inilah-pusat-vibrasi-energi-tubuh/#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2016 17:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Esoterik]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Prana Shakti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2322</guid>
		<description><![CDATA[<p>Mungkin penulis sedang &#8216;demam&#8217; menulis artikel tentang subtle energy dan kali ini penulis mencoba melihat secara lebih spesifik tentang vibrasi energi khususnya terkait dengan tubuh kita.  Sederhananya &#8220;vibrasi&#8221; dapat diartikan getaran.  Dalam percakapan sehari-hari ada kalimat seperti &#8220;tubuhnya bergetar hebat&#8230;&#8221; &#8220;ada getaran asmara antara kedua insan&#8221;, dan sebagainya. Dalam kamus Oxford online dictionary, Vibrasi (Vibration) [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/inilah-pusat-vibrasi-energi-tubuh/">Inilah Pusat Vibrasi Energi Tubuh</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2016/01/energi.jpg"><img class="alignleft wp-image-2205" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2016/01/energi.jpg" alt="energi" width="506" height="635" /></a>Mungkin penulis sedang &#8216;demam&#8217; menulis artikel tentang subtle energy dan kali ini penulis mencoba melihat secara lebih spesifik tentang vibrasi energi khususnya terkait dengan tubuh kita.  Sederhananya &#8220;vibrasi&#8221; dapat diartikan getaran.  Dalam percakapan sehari-hari ada kalimat seperti &#8220;tubuhnya bergetar hebat&#8230;&#8221; &#8220;ada getaran asmara antara kedua insan&#8221;, dan sebagainya.</p>
<p>Dalam kamus Oxford online dictionary, Vibrasi (Vibration) didefinisikan sebagai berikut: <span class="definition"> A person’s <a class="w translation" title="Meaning of emotional" href="http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/emotional#emotional__2">emotional</a> state, the <a class="w translation" title="Meaning of atmosphere" href="http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/atmosphere#atmosphere__8">atmosphere</a> of a place, or the <a class="w translation" title="Meaning of associations" href="http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/association#association__6">associations</a> of an object, as <a class="w translation" title="Meaning of communicated" href="http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/communicate#communicate__2">communicated</a> to and felt by others.  Dari definisi ini vibrasi memiliki arti cukup luas, mulai dari adanya kondisi emosional yang dapat dirasakan, kondisi lingkungan, atau asosiasi dari sebuah obyek sebagaimana yang disampaikan kepada atau dirasakan oleh orang lain.  </span></p>
<p>Dalam artikel ini penulis akan menulis mengenai pusat vibrasi energi tubuh, namun dalam bentuk deskriptif yang menguraikan hubungan antara penyelarasan &#8211; 3 P (pikiran, perkataan dan perbuatan) &#8211; Hati &#8211; Vibrasi dan Transformasi spiritual mencapai pencerahan yang hakiki</p>
<p>Vibrasi pada dasarnya dapat dirasakan ada yang sangat halus, halus sampai cukup kuat.  Saat seorang praktisi reiki atau prana sedang merasakan sensasi vibrasi energi di antara kedua telapak tangannya, ia bisa merasakan beberapa sensansi yang mungkin bisa berbeda satu sama lain ketika mengakses energi tertentu, misalnya, sebuah getaran halus seperti memegang bola, ada rasa saling dorong, saling tarik menarik, membal, dan sebagainya. Bahkan bagi seorang praktisi Prana Shakti, disamping bisa merasakan vibrasi (subtle) energi positif untuk healing,  ia juga bisa merasakan sensasi vibrasi energi negatif melalui telapak tangannya saat ia merasakan energi aji sapu jagad sapu anom, dan lain-lain, mulai dari rasa tajam menusuk (seperti jarum atau paku), gatal-gatal, kesemutan, dan lain-lain.  Semua kemampuan ini diperoleh ketika praktisi tersebut memiliki keselarasan terhadap dimensi semesta dari subtle energy setelah mendapatkan penyelarasan yang disebut Abhiseka dan Shaktipat. Tentu semua ini atas izin dari Tuhan YME, bukan meminta kepada jin.</p>
<p>Pada dasarnya tubuh manusia memiliki beberapa lapisan. Salah satu yang penting dan jarang disadari adalah tubuh eterik yang berada di lapis luar tubuh fisik. Secara kasat mata warnanya putih dan menyelubungi tubuh kita. Di tubuh eterik inilah berputar chakra (dikenal ada 7 chakra utama mulai dari chakra dasar, chakra seks /sakral, chakra pusar, chakra jantung, chakra tenggorokan, chakra mata ketiga dan chakra mahkota). Chakra ini memungkinkan terjadi aktivitas atau kehidupan, bergerak seperti roda saat menerima energi dari alam semesta seperti sinar matahari, oksigen, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Sejak lahir chakra-chakra tersebut telah terbuka dan berputar. Hanya saja akibat berbagai ketidakselarasan yang dibuat oleh manusia seperti melalui pikiran, ucapan dan perbuatan (suka berpikir buruk, berkata kotor, memfitnah, berbohong, berbuat kekerasan, melakukan perbuatan maksiat, dan sebagainya), maka perputaran chakra menjadi tidak sempurna lagi.  Oleh sebab itu, dengan teknik penyelarasan makrokosmos dan mikrokosmos, maka perputaran (roda) chakra tersebut bisa kembali normal dan tubuh kembali selaras dengan alam semesta.</p>
<p>Sebuah kultivasi kesadaran semesta mencapai tahap pencerahan, memasuki sebuah proses transformasi energi spiritual, mulai terjadi saat kundalini (api suci) dalam tubuh kita bangkit. Dengan proses yang dinamakan shaktipat, maka gulungan (kumparan) yang berbentuk tiga setengah lingkaran yang bersemayam di perinium akan terbuka dari yang semula masih &#8216;tertidur&#8217;, akan bangkit dan naik sepanjang jalur sushumna sehingga mencapai chakra mahkota. Kenaikan kundalini ini akan memperkuat dan menyelaraskan perputaran chakra-chakra di atasnya sehingga tubuh fisik dan spiritual menjadi lebih stabil, energik, yang menyebabkan imunitas tubuh meningkat, berbagai blok energi terbuka dan proses kesembuhan terhadap berbagai penyakit terjadi dengan lebih cepat. Seseorang yang memiliki kundalini yang telah sempurna mungkin pada awalnya merasakan vibrasi energi mulai dari halus sampai sedang bahkan ada yang merasakan getaran kuat yang bisa menggerakkannya dari posisi duduk meditasinya.  Umumnya ada hawa hangat yang mengalir merambat naik dari perinium ke bagian atas tubuh sampai ke kepala (chakra mahkota).  Kenaikan kundalini ini juga menyelaraskan suhu tubuh dan setelah proses aktivasi ini selesai, biasanya tubuh akan kembali normal (sedikit terasa lebih hangat dari biasanya namun adaptatif untuk menyesuaikan diri dengan suhu tubuh sekitarnya). Dalam kondisi panas terik, tubuh akan terasa lebih teduh, dan di saat dingin, tubuh akan terasa hangat.</p>
<p>Penyelarasan yang menimbulkan kultivasi kesadaran energi semesta ini sulit untuk dilakukan oleh diri sendiri dan membutuhkan waktu yang cukup lama karena seringkali proses &#8216;pembersihan&#8217; jalur memakan waktu dan apabila blok energi terjadi pada chakra-chakra tertentu, maka proses penyelarasan akan menjadi lebih lama.  Dengan bantuan dari seorang Master maka proses penyelarasan dapat berjalan dengan baik dan sempurna.  Adalah sebuah hal penting untuk memilih seorang Master yang baik agar kultivasi kesadaran semesta dapat terjadi dengan sempurna karena hal ini menyangkut spiritualitas. Dalam artikel-artikel sebelumnya telah dimuat mengenai karakter seorang Master (esoterik) yang baik dan bisa menjadi panutan.  Sebuah transformasi spiritual tidak sebatas pemahaman teknik penyembuhan tetapi lebih pada pemahaman hakekat perjalanan spiritual menuju pencerahan (enlightenment), dimana muncul benih-benih kesadaran yang hakiki, dengan cinta kasih dan kasih sayang universal dan memiliki kepekaan dan kedekatan dengan sumber dan pusat energi semesta yakni Tuhan YME.</p>
<p>Tak ayal lagi kedekatan kepada Sang Pencipta membawa kita untuk selalu bersyukur atas segala yang kita rasakan termasuk atas setiap tarikan dan hembusan nafas.  Bentuk syukur yang dapat dilihat adalah berdoa kepada Nya menurut keyakinan masing-masing kemudian menjaga keselarasan dalam pikiran, ucapan dan perbuatan. Tidak cukup ketika hal baik itu dipikirkan dan diyakini, tetapi harus disampaikan dan dikerjakan. Kondisi jiwa yang tenang berada dalam pikiran yang jernih, senantiasa berada dalam cahaya Ilahiah yang menuntun kita agar hati senantiasa terjaga bersih. Sebuah proses transformasi spiritual sepanjang hidup tetap berproses dan kita tetap memerlukan upaya nyata untuk mewujudkannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/inilah-pusat-vibrasi-energi-tubuh/">Inilah Pusat Vibrasi Energi Tubuh</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/inilah-pusat-vibrasi-energi-tubuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spiritualis memandang dunia materi</title>
		<link>https://masterholistic.com/spiritualis-memandang-dunia-materi/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/spiritualis-memandang-dunia-materi/#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2016 22:34:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2243</guid>
		<description><![CDATA[<p>Judul artikel ini pada dasarnya bukan hal baru namun menurut penulis, hal ini menjadi sebuah titik awal bagi pemahaman khususnya bagi mereka yang belum atau tidak pernah menjalani dunia spiritual. Dunia spiritual di sini bukan dunia perdukunan karena yang dimaksud penulis adalah dunia yang ada dalam pandangan para praktisi yang menjalankan kehidupan secara ruhaniah yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/spiritualis-memandang-dunia-materi/">Spiritualis memandang dunia materi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2016/02/money-trap.jpg"><img class=" wp-image-2244 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2016/02/money-trap-1366x911.jpg" alt="money trap" width="728" height="485" /></a>Judul artikel ini pada dasarnya bukan hal baru namun menurut penulis, hal ini menjadi sebuah titik awal bagi pemahaman khususnya bagi mereka yang belum atau tidak pernah menjalani dunia spiritual. Dunia spiritual di sini bukan dunia perdukunan karena yang dimaksud penulis adalah dunia yang ada dalam pandangan para praktisi yang menjalankan kehidupan secara ruhaniah yang membimbingnya kepada sifat-sifat ketuhanan atau Ilahiah.</p>
<p>Dunia materi khususnya uang adalah tolok ukur bagi mereka yang tidak termasuk dalam kategori seorang spiritualis sejati. Dengan demikian dapat dilihat dari cara orang tertentu berpromosi untuk menjual segala bentuk &#8216;aksesoris&#8217; atau perlengkapan dunia mistis yang ujung-ujungnya untuk mencari kekayaan duniawi.  Seorang spirituali sejati malah sebaliknya. Ia tidak terpancing dan terlena oleh gemerlapnya harta duniawi namun ia menjalani masa kehidupannya dengan hidup harmonis dan senantiasa mengingat Tuhan. Ia tidak memiliki banyak tuntutan namun ia selalu membuka diri untuk sebuah kebaikan dan kebajikan bagi semua makhluk. Kadar ruhaniah yang ia miliki melampaui kesenangan akan duniawi namun ia tidak melupakan bahwa kehidupan duniawi adalah perlu, namun dengan jalan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai spiritualitas itu sendiri.</p>
<p>Dewasa ini dalam kondisi ekonomi yang sulit. ada sebagian orang yang semula hidup dalam spiritualitas yang tergiur untuk mencari kehidupan yang secara materi dianggap bisa menjamin kebahagiaan duniawi tersebut. Mereka sebenarnya belum lulus ujian tahap awal dari dunia spiritual sesungguhnya. Apalagi ada yang berkedok sebagai dukun untuk secara psikologis memainkan &#8216;state of mind&#8217; dari para kliennya, hal mana merupakan gaya non spiritualis yang dikemas dalam bentuk=bentuk yang seolah-olah spiritual.  Beda sekali dengan para spiritualis sejati yang tidak terpancing dan terpikat hanya oleh segepok uang ratusan ribu.</p>
<p>Mereka petulang ruhani atau spiritualis sejati mengekplorasi dunia bathinnya terkoneksi dengan samudra luas yang membawanya menyebrang (melakukan trnsformasi) dalam pikirannya dari suatu hal yang buruk menuju suasana bathin yang terang benderang, sehingga tak heran, mereka bisa menangkap sinyal-sinyal yang tidak diperoleh oleh orang awam, apalagi para pemuas nafsu duniawi dan penggila materi.  Ibarat kata, mereka melihat matahari yang terang menuju pada kehidupan spiritual yang lebih cerah, sedangkan pencari kebahagiaan duniawi sebaliknya, turun ke lembah atau jurang yang menjanjikan berbagai kenikmatan namun penuh tipu daya dan perangkap (baca: kemelekatan).</p>
<p>Dengan demikian sudah cukup alasan mengapa banyak pencari cahaya spiritual mengambil jalan yang berbeda dengan pencari kesenangan duniawi. Mereka senang ketika berbagi kebahagiaan, menjaga sikap dan moralitas, etika dan sopan santun. serta tidak terbebani oleh kebodohan bathin termasuk kemelekatan yang menjadikan mereka sulit lepas dari jeratan kesombongan dan keserakahan.  Mereka yang memiliki jiwa seorang spiritualis sejati inilah yang cocok menjadi Guru dalam berbagai konteks spiritual termasuk meditasi.  Sedangkan mereka yang tidak memiliki atribut tersebut, sekalipun menamakan diri sendiri sebagai Guru, tidak akan membawa murid-muridnya menuju cahaya Ilahiah, malah mungkin sebaliknya.</p>
<p>Interaksi seorang yang telah mencapai pencerahan ibarat Yin-Yang, tidak mandeg dengan suatu pengajaran &#8216;memberi&#8217; namun juga &#8216;meminta&#8217; mengapa?  Karena ketika hanya ada satu kata, misalnya &#8216;memberi&#8217; maka suatu saat kelak akan muncul rasa sombong seakan-akan mereka telah mencapai tingkatan tanpa kekurangan, padahal dalam bathin mereka terjadi konflik.  &#8220;Meminta&#8221; dalam urusan Ilahiah bukan kata tabu atau &#8216;mengemis&#8217; namun, kata ini lebih cenderung pada kebutuhan akan bimbingan menuju pencerahan atau transformasi diri menjadi lebih baik secara spiritual.  Seorang petualang, seorang pertapa dan Yogi juga adalah orang-orang yang haus akan kebenaran, ingin membedah dunia bathin untuk melepaskan diri dari kemelekatan.  Dan itu adalah tanda bahwa mereka juga &#8216;meminta&#8217; kepada Zat yang Maha Tinggi, Tuhan YME, untuk mendapatkan petunjuk.  Kunci menerima dan memberi adalah sebuah rangkaian yang menjadikan hidup lebih hidup karena ada keterkaitan dan harmonisasi di dalamnya.  Meminta bukan berarti membiasakan diri bermalas-malasan atau mengemis, tetapi  memberi pun tidak melakukan sebuah upaya positif jika ada keinginan terselubung di dalamnya.  Semuanya membutuhkan keikhlasan. Semua membawa cahaya ketika dilakukan dalam keadaan seimbang, dan semua akan membentuk kehidupan itu sendiri. Kata kunci memberi dan menerima adalah keikhlasan dan rasa syukur, bukan karena siapa aku tetapi karena pengembangan daya bathin mencapai transformasi diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/spiritualis-memandang-dunia-materi/">Spiritualis memandang dunia materi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/spiritualis-memandang-dunia-materi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilema seorang Guru</title>
		<link>https://masterholistic.com/dilema-seorang-guru/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/dilema-seorang-guru/#respond</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2015 17:06:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2127</guid>
		<description><![CDATA[<p>Guru adalah sebuah profesi sekaligus sebutan yang mulia tidak hanya bagi mereka yang tamat dari sekolah keguruan atau Perguruan Tinggi yang mengambil spesialisasi pendidikan, tetapi juga bagi pribadi-pribadi terpilih yang memiliki kualitas dan layak untuk disebut guru. Memang ironis ketika para guru yang telah menjadikan banyak orang-orang sukses dengan gaji yang tinggi, tidak bisa mengenyam [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/dilema-seorang-guru/">Dilema seorang Guru</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/10/butterfly-quote-lao-tzu.jpg"><img class=" size-full wp-image-2128 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/10/butterfly-quote-lao-tzu.jpg" alt="end is a beginning" width="640" height="429" /></a>Guru adalah sebuah profesi sekaligus sebutan yang mulia tidak hanya bagi mereka yang tamat dari sekolah keguruan atau Perguruan Tinggi yang mengambil spesialisasi pendidikan, tetapi juga bagi pribadi-pribadi terpilih yang memiliki kualitas dan layak untuk disebut guru. Memang ironis ketika para guru yang telah menjadikan banyak orang-orang sukses dengan gaji yang tinggi, tidak bisa mengenyam kesejahteraan dari segi materiil.  Tetapi di antara mereka, yang layak disebut Guru (dengan huruf kapital G) hanyalah sedikit.  Mereka yang menyandang Guru (Master) adalah mereka yang:</p>
<ul>
<li>Bukan hanya menguasai materi namun yang menjadi ukuran penilaian adalah RUH atau SPIRIT dari seorang Pendidik yakni orang yang ikhlas menurunkan semua perspektif keilmuan yang ia miliki kepada orang lain bahkan ia mampu membentuk dan membimbing orang lain tersebut menjadi pribadi mulia</li>
<li>memiliki pengendalian diri (self-control) yang baik dari segi pikiran, ucapan dan perilakunya. Mereka menjadi sosok yang bisa dipercaya dan dihormati, sekalipun bagi mereka yang baru saja mengenalnya dalam hitungan menit. Hal ini disebabkan kharisma, pemahaman, intonasi suara dan penampilan yang layak diapresiasi. Bukan karena rekayasa tetapi semua atribut tersebut adalah cerminan dari pribadi yang mulia</li>
<li>Memiliki attitude yang selaras dengan profesionalisme, bukan &#8216;attitude&#8217; yang berdasarkan sikap atau perilaku yang &#8216;enak&#8217; didengar atau dilihat saja.  Ia adalah orang yang memiliki integritas dan siap memikul resiko karena sikap profesionalismenya tersebut.</li>
<li>Seorang Guru memiliki &#8216;taste&#8217; yang berbeda ketika dihadapkan dengan dua pilihan yang ekstrim, &#8220;kekayaan&#8221; atau &#8220;kesederhanaan&#8221;, &#8220;ketenaran&#8221; atau &#8220;kemuliaan&#8221;.  Ia menjatuhkan pilihan pada kesederhanaan dan kemuliaan daripada kekayaan dan ketenaran karena mereka memahami bahwa banyak kekayaan dan ketenaran memaksa orang-orang untuk bersikap egois, menempuh jalan tipu muslihat, bahkan sering melupakan esensi dari spiritualitas yang hakiki.</li>
<li>Seorang Guru  melihat orang lain dengan kacamata hati dan kebijaksanaan.  Ia adalah seorang yang cerdas dari segi logika namun ia tidak terperangkap olehnya.</li>
<li>Tidak ada hal bodoh yang bisa &#8216;menutup&#8217; pandangannya terhadap sebuah realitas dan ia bisa merasakan apa yang terjadi di belakang segala tipu daya yang dimainkan sekalipun 90 persen orang lain bisa diperdaya.</li>
<li>Bagi seorang Guru (Master), kemarahan, caci maki dan keakuan merupakan &#8216;penyakit&#8217; yang harus &#8216;disembuhkan&#8217;.  Berat baginya untuk marah secara membabi-buta, mencaci maki orang lain dan merendahkan orang lain karena ia sadar bahwa ia hidup dalam sebuah &#8216;panggung&#8217; yang memiliki banyak peran dan pemeran.  Mungkin ia telah melihat bahwa ia hanyalah seorang figuran belaka sehingga ia tidak akan mengumbar segala kebencian, kemarahan dan egoisme ketika berada dalam posisi itu.</li>
</ul>
<p>Berbagai atribut positif yang dimiliki seorang Guru (Master) di atas menjadi alasan mengapa kemunculan mereka seringkali tidak &#8216;terdengar&#8217; namun ketika ia kembali ke pangkuan Ilahi, namanya senantiasa dikenang.  Berbeda dengan mereka yang selama hidupnya dikenal luas namun ketika &#8216;pergi&#8217; mereka membawa kontroversi tak berkesudahan.</p>
<p>Dilema bagi seorang Guru dalam menghadapi kenyataan dewasa ini adalah bagaimana ia dapat menunjukkan nilai-nilai yang dimilikinya untuk disebarluaskan kepada orang lain tanpa meninggalkan kesan pencitraan.  Hidup penuh pro dan kontra dan ia tahu itu. Namun, ia tidak akan terpojok pada satu titik ekstrim sekalipun ia berbicara tentang &#8216;jalan tengah&#8217;.  Ia tahu bahwa kehidupan ini unversal dan yang lebih utama adalah berbagi dengan cinta kasih dan kasih sayang kepada semua orang bahkan semua makhluk.  Seorang Guru tidak memandang pilihan karena faktor cari untung tetapi transformasi diri yang membawanya beserta orang lain secara spiritual menuju kesadaran yang lebih tinggi.</p>
<p>Bagi seorang Guru, kesederhanaan yang bagi orang lain adalah kebodohan, namun baginya adalah berkah karena ia bisa mempercepat transformasi spiritual dibandingkan mereka yang terjerat dengan kekayaan. Hal ini dikarenakan faktor kemelekatan (attachment) akibat harta duniawi adalah faktor yang mempersulitnya keluar dari &#8220;cinta dunia dan cinta diri&#8221; berlebih.</p>
<p>Semoga artikel ini memberikan secercah pengetahuan menyingkap tirai seorang Guru sejati yang keberadaannya langka dewasa ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/dilema-seorang-guru/">Dilema seorang Guru</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/dilema-seorang-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Memahami &amp; Menghargai</title>
		<link>https://masterholistic.com/belajar-memahami-menghargai/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/belajar-memahami-menghargai/#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2015 17:08:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2121</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pada artikel ini penulis ingin mengajak pembaca untuk memulai hidup bijak melalui dua kata sederhana, yakni &#8220;Memahami&#8221; dan &#8220;Menghargai&#8221;.  Kelihatannya tidak ada yang istimewa bukan?  Namun, pada kenyataannya kedua kata ini sangat dahsyat jika kita bisa munculkan dalam hubungan kita bersama orang lain. Sejak zaman dulu, peribahasa kuno mengatakan &#8220;Tak ada gading yang tak retak&#8221;, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/belajar-memahami-menghargai/">Belajar Memahami &#038; Menghargai</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/10/belajar-memahami.jpg"><img class=" size-full wp-image-2122 alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/10/belajar-memahami.jpg" alt="belajar memahami" width="550" height="250" /></a>Pada artikel ini penulis ingin mengajak pembaca untuk memulai hidup bijak melalui dua kata sederhana, yakni &#8220;Memahami&#8221; dan &#8220;Menghargai&#8221;.  Kelihatannya tidak ada yang istimewa bukan?  Namun, pada kenyataannya kedua kata ini sangat dahsyat jika kita bisa munculkan dalam hubungan kita bersama orang lain.</p>
<p>Sejak zaman dulu, peribahasa kuno mengatakan &#8220;Tak ada gading yang tak retak&#8221;, yang berarti tak ada manusia yang sempurna. Dalam bahasa Inggrisnya disebut &#8220;Nobody is Perfect&#8221;.  Banyak dari kita yang sering lupa ketika sudah berada pada posisi atau kehidupan sosial tertentu bahwa hidup kita ini masih banyak kekurangan, sekalipun mungkin secara kepandaian dan kekayaan kita sudah melampaui banyak orang.</p>
<ul>
<li>Cobalah kita berdiri di depan sebuah cermin, lalu perhatikan setiap jengkal tubuh kita, mulai dari rambut, wajah, badan sampai kaki, dalam kondisi berdiri tegak lurus maupun menyamping, apakah kita sudah layak disebut &#8216;sempurna&#8217;? Bisa jadi kita membanggakan diri kita, tapi cobalah lihat diluar sana, apakah tidak ada orang yang lebih baik secara fisik dari kita?</li>
<li>Cobalah kita pejamkan mata kita, lalu biarkan selama beberapa saat sambil berusaha berkonsentrasi pada nilai-nilai luhur seperti kesederhanaan, kebajikan, kejujuran dan keberanian. Apakah semua sudah kita penuhi? atau mungkin yang muncul dalam pikiran adalah saat kita menghambur-hamburkan uang untuk suatu hal yang tidak berguna, atau saat kita menipu oranglain atau bahkan saat kita merasa gentar menghadapi sebuah tantangan?</li>
<li>Berikutnya, cobalah kita perhatikan anak dan istri/ suami kita, apakah selama ini kita lebih baik dan sempurna di bandingkan mereka? Apakah perilaku kita &#8216;menggemaskan&#8217; seperti anak-anak kita yang masih kecil, atau sebaliknya &#8216;menjijikkan&#8221;?  atau apakah istri/suami kita, saat kita pandangi mereka beraktivitas, lebih buruk dari kita, atau sebaliknya, mungkin kitalah yang tidak sadar bahwa selama ini kita ternyata kalah dari mereka?</li>
</ul>
<p>Ketika mata kita senantiasa dalam kondisi terbuka, yang dominan terlihat adalah kesalahan orang lain, dan bagian dari diri kita yang dipenuhi ego akan mengatakan &#8220;ah elu pada bodoh semua&#8230; gue nih paling jago dalam hal ini dan itu&#8221;, atau &#8220;ah&#8230; manalah keberuntungan akan terjadi tanpa kita berusaha keras&#8230; &#8220;. sebuah kekuatan dari &#8216;ego&#8217; yang sering membelenggu kita dan membawa kita ke jurang kesombongan dan kehancuran. Mungkin tidak secepat itu proses kehancuran yang kita alami, namun itu akan terakumulasi di benak orang-orang yang mengenal kita, apalagi yang secara terang-terangan kita &#8216;serang&#8217;.</p>
<p>Dengan belajar &#8220;Memahami&#8221; sebuah realita, sekalipun tidak selalu &#8216;wah&#8217; atau &#8216;hebat&#8217; atau &#8216;menarik&#8217;, kita secara naluriah telah menyuburkan pemahaman akan hakekat penciptaan. Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang di dalamnya ada keharmonisan atau pembelajaran untuk mencapai tingkatan spiritualitas yang lebih tinggi.</p>
<p>Dengan &#8220;Menghargai&#8221; orang lain, kesempatan yang diberikan Tuhan YME, kita bisa mengembangkan kemampuan apresiasi kepada orang lain, hal mana &#8216;apresiasi&#8217; ini mungkin merupakan hal yang selalu kita harapkan diberikan orang lain kepada kita. Mengapa tidak berusaha menghargai orang lain?  Ingatlah dibalik kesempitan ada keluasan, dibalik kekurangan ada kelebihan dan dibalik kelemahan ada kekuatan.  Tak ada yang patut membuat kita menyombongkan diri, dan tak ada yang patut membuat kita merendahkan orang lain.  Bukankah begitu?</p>
<p>Semoga artikel ini bisa menumbuhkan dasar-dasar kebijaksanaan dalam diri kita dan bisa menjadikan diri kita secara spiritual lebih bernilai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/belajar-memahami-menghargai/">Belajar Memahami &#038; Menghargai</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/belajar-memahami-menghargai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spiritualitas dalam Meditasi</title>
		<link>https://masterholistic.com/spiritualitas-dalam-meditasi/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/spiritualitas-dalam-meditasi/#respond</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2015 04:29:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2099</guid>
		<description><![CDATA[<p>Jika kita berbicara mengenai spiritualitas, maka esensinya adalah upaya untuk meningkatkan kesadaran diri dan mencapai pencerahan.  Meditasi memang memiliki banyak dimensi untuk kehidupan kita mulai dari melatih pernafasan, visualisasi, kesehatan sampai dengan spiritualitas.  Di balik semua atribut tersebut, meditasi jika dilakukan dengan benar dan tidak ditujukan untuk &#8220;menggali&#8221; dunia bawah (underworld), maka semakin dalam meditasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/spiritualitas-dalam-meditasi/">Spiritualitas dalam Meditasi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/07/pencerahan-2.jpg"><img class=" wp-image-1285 size-full alignleft" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/07/pencerahan-2.jpg" alt="pencerahan" width="560" height="406" /></a>Jika kita berbicara mengenai spiritualitas, maka esensinya adalah upaya untuk meningkatkan kesadaran diri dan mencapai pencerahan.  Meditasi memang memiliki banyak dimensi untuk kehidupan kita mulai dari melatih pernafasan, visualisasi, kesehatan sampai dengan spiritualitas.  Di balik semua atribut tersebut, meditasi jika dilakukan dengan benar dan tidak ditujukan untuk &#8220;menggali&#8221; dunia bawah (underworld), maka semakin dalam meditasi akan semakin membawa kita memahami hakekat hidup itu sendiri dan bisa memberikan pemahaman baru, khususnya dalam meningkatkan kesadaran antara lain mengenali siapa &#8221; sang ego&#8221; dalam diri kita sehingga jika pemahaman itu diarahkan dengan pandangan dan konsentrasi yang benar akan membawa kebaikan dalam diri kita.</p>
<p>Apalah artinya kecantikan dan ketampanan yang kita miliki jika kita kenali bahwa itu hanya &#8216;selembar&#8217; kulit ari yang menutupi tulang belulang belaka? Apakah kita layak menyebut diri kita lebih dari yang lain ketika hakekat dari ketidak-kekalan itu telah kita sadari?  Masihkan menyombongkan diri dan &#8216;menjual&#8217; diri demi memperoleh uang /harta yang juga sama tidak kekalnya?  Kalimat-kalimat ini sebenarnya tidak ditujukan untuk membuat diri kita menjadi &#8216;rendah diri&#8217;, namun kesadaran yang dibentuk dari sebuah pemahaman atas hakekat kehidupan adalah lebih penting.  Tidak ada &#8220;rendah diri&#8221; yang memberikan nilai positif bagi keberlangsungan kehidupan duniawi maupun ilahiah. Namun menyadari bahwa kita bisa menempatkan diri, rendah hati dan senantiasa meningkatkan kewaspadaan merupakan faktor penting dalam mengawal tumbuhnya nilai-nilai spiritualitas yang baik.</p>
<p>Fenomena dari kaya secara materi dan kaya secara spiritual juga memberikan kita pemahaman baru. Ketika kita tidak bisa mengimbangi, menyelaraskan tingkat spiritualitas kita terhadap kekayaan materi yang diperoleh, maka sisa dari kekayaan materi yang tidak terjamah nilai spritualitas itu adalah bagian dari kesia-siaan bahkan cenderung akan menjadi ancaman bagi diri kita sendiri sebab mereka dapat dengan mudah merusak semua nilai yang telah dibangun saat bekerja mencari nafkah.  Apalagi dengan berbagai upaya yang bertentangan dengan nilai moral dan spritual seperti korupsi, menipu orang lain dan sebagainya.  Hakekat dari hidup bahagia tidak diukur dari berapa banyak uang dan harta yang dimiliki, namun dari seberapa dalam dan teduh pikiran dan hati yang dimiliki.  Ibarat perbandingan antara kita berada dalam suasana dan kondisi perang dibandingkan kita berlayar di lautan teduh.  Setiap tambahan harta kekayaan yang membuat pikiran  cemas, hati yang tidak tenang merupakan perwujudan dari keadaan dimana kita memiliki &#8220;senjata&#8221; dan berada dalam keadaan perang. Tidak ada rasa nyaman, rumah dijaga ketat dengan pagar yang tinggi, jauh dari hubungan harmonis dengan tetangga dan masyarakat lain.  Beda halnya ketika kita bisa hidup dalam kesederhanaan, mungkin juga memiliki harta kekayaan yang melimpah, namun dengan menjaga sikap moral dan meningkatkan spiritualitas, maka kita berada di sebuah biduk yang  berlayar dengan tenang di lautan yang tenang. Tidak ada rasa cemas karena hidup kita berada ditengah masyarakat yang saling menghormati, menghargai dan saling menjaga.  Tidak perlu tembok tinggi, pagar yang menutupi sampai atap rumah dan pos penjagaan yang ketat.</p>
<p>Meditasi pada dasarnya merupakan landasan bagi tumbuhnya moralitas yang baik, tempat dimana spiritualitas mulai menampakkan cahayanya sehingga perkembangan kesadaran terus meningkat. Namun meditasi yang dilakukan tanpa adanya interaksi dengan sesama manusia dan makhluk hidup lain tidak akan memberikan manfaat luas dalam hidup kita, bahkan berpotensi menumbuhkan spiritualitas &#8220;sempit&#8221; yang bisa berpotensi terjadinya &#8220;self-destruction&#8221;.  Tuhan YME menciptakan makhluk hidup beraneka ragam dan unik tentunya merupakan peluang dan tempat dimana kita bisa mempraktekkan segala jenis perbuatan baik yang kita peroleh melalui pemahaman mengenai spiritualitas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/spiritualitas-dalam-meditasi/">Spiritualitas dalam Meditasi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/spiritualitas-dalam-meditasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencermati benih spiritualitas</title>
		<link>https://masterholistic.com/mencermati-benih-spiritualitas/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/mencermati-benih-spiritualitas/#respond</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2015 01:58:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2094</guid>
		<description><![CDATA[<p>Setiap orang pada dasarnya, sejak dalam rahim ibunya telah ditanamkan benih spiritualitas dari Sang Maha Pencipta. Seorang janin dalam kandungan telah melakukan interaksi pada alam mikro dan makrokosmosnya sendiri, yang merupakan cerminan kecil dari yang ia peroleh saat telah terlahir dan menjadi dewasa. Sekalipun demikian interaksi si janin ini adalah interaksi murni yang kadarnya mungkin seperti [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/mencermati-benih-spiritualitas/">Mencermati benih spiritualitas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/10/spiritual.jpg"><img class="alignleft wp-image-2095 size-full" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/10/spiritual.jpg" alt="spiritual" width="446" height="360" /></a>Setiap orang pada dasarnya, sejak dalam rahim ibunya telah ditanamkan benih spiritualitas dari Sang Maha Pencipta. Seorang janin dalam kandungan telah melakukan interaksi pada alam mikro dan makrokosmosnya sendiri, yang merupakan cerminan kecil dari yang ia peroleh saat telah terlahir dan menjadi dewasa. Sekalipun demikian interaksi si janin ini adalah interaksi murni yang kadarnya mungkin seperti logam mulia karena ia langsung terhubung dengan sang ibu yang mendapatkan anugrah dari Sang Pencipta untuk membesarkan benih cinta kasih dari orang tua dan Tuhan YME sendiri. Dalam kondisinya di alam rahim tersebut tercipta benih-benih spiritual yang bila semakin dikembangkan oleh ibu, ayah dan sekelilingnya akan menjadikan ia terlahir menjadi seorang anak yang pengasih, penyayang dan memenuhi berbagai unsur ilahiah yang akan menjadikannya kuat, tegar akan menjalani masa depannya kelak.</p>
<p>Ketika terlahir di alam fana ini, seorang bayi manusia masih memiliki kadar kemurnian yang sangat tinggi sehingga ia selaras dengan alam mikrokosmos dan makrokosmosnya.  Ia mulai mendengarkan suara orang tuanya yang memanjakan dan menyayanginya yang memberikannya nutrisi awal untuk menjadikannya memahami realitas atas suatu rasa syukur orang tua terhadap kelahirannya. Kemudian saat menjadi anak-anak, ia akan bertumbuh dengan suasana lingkungan yang lebih luas dan mendengar berbagai suara baik dan buruk, dan ini juga akan tertanam dan menjadi referensi baginya untuk melihat realitas dunia yang lebih luas. Di sini mulai timbul keingintahuan yang kuar dan bimbingan yang baik dari orang tua dengan nilai-nilai moral sudah harus ditanamkan agar ia memiliki kerangka moralitas hidup berinteraksi dengan orang lain dan bisa menghargai satu sama lain.  Benih spiritualitas ini seyogyanya tidak dikontaminasi dengan berbagai kepentingan sempit dan pandangan sempit karena ia adalah karunia Tuhan yang sempurna dan akan menentukan arah hidupnya kelak.</p>
<p>Disiplin dan moralitas sebagai dasar pijakan agar ia bisa melihat benih ketuhanan yang ada dalam dirinya. Ketika ia dikenalkan dengan berbagai suasana dan ritual keagamaan, seyogyanya ia mendapatkan gambaran yang cerah dan mencerahkan terlepas dari segala persepsi yang tidak memberdayakan. Jika ada hal yang dianggap penting menjadi filter maka filter itu seyogyanya merupakan pemahaman dan pembinaan akhlak yang baik.  Kebencian dan persepsi yang dimiliki orang tua yang belum melihat secara utuh suatu peristiwa atau sebab-akibat, seringkali menjadi &#8220;toksin atau racun terhadap benih spiritualitas&#8217; anak-anak mereka.  Ingatlah anak-anak lebih dominan meng copy paste berbagai model atau pandangan orang tuanya. Jika ia besar dalam lingkungan yang penuh cinta kasih dan kasih sayang, maka ia akan bertumbuh menjadi anak yang soleh, anak yang mampu mengembangkan nilai-nilai spiritual dan moralitasnya. Sebaliknya, jika ia hidup dalam dunia kebencian dan kemarahan, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang keras, kasar, egois, pemarah, sehingga banyak benih spiritualitas yang baik yang telah tertanam dalam dirinya akan hancur. Hal ini terus berkembang sehingga ia menjadi tidak selaras lagi dengan alam mikro dan makrokosmosnya.</p>
<p>Benih spiritualitas memang harus &#8220;disiram&#8221; dengan cinta kasih dan kasih sayang, dijaga dengan pemahaman moralitas dan dimotivasi dengan pencapaian nilai spiritualitas yang lebih tinggi, sebuah kesadaran yang akan membawanya kelak menjadi orang yang berpandangan luas, dengan nilai-nilai ketuhanan yang akan membimbingnya memasuhi wilayah terindah dalam hidupnya sehingga ia mampu memberi manfaat bagi banyak orang tanpa didalamnya memuat unsur kebencian dan kemunafikan.</p>
<p>Semoga artikel ini bisa memberikan kita sudut pandang dan pemberdayaan diri agar memahami hakekat dari pentingnya mencermati benih-benih spiritual dalam setiap diri kita sehingga bisa mencapai tataran yang lebih tinggi, bahkan bisa mencapai kesadaran paripurna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/mencermati-benih-spiritualitas/">Mencermati benih spiritualitas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/mencermati-benih-spiritualitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hakekat Holistic Healing dalam Dimensi Spiritual</title>
		<link>https://masterholistic.com/hakekat-holistic-healing-dalam-dimensi-spiritual/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/hakekat-holistic-healing-dalam-dimensi-spiritual/#respond</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2015 18:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2079</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dewasa ini banyak sekali yang menawarkan holistic healing karena pada dasarnya semua penyembuhan terjadi karena Mind-Body-Spirit telah mencapai keselarasan.  Holistic berasal dari &#8220;Whole&#8221; yang berarti &#8220;menyeluruh&#8221;. Banyak sekali ketidakselarasan dalam hidup kita terjadi akibat pandangan yang salah, yang mengatakan bahwa penyembuhan hanya pada tataran fisik. Apa yang dipancarkan oleh hati dalam kondisi yang &#8220;teduh&#8221; dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/hakekat-holistic-healing-dalam-dimensi-spiritual/">Hakekat Holistic Healing dalam Dimensi Spiritual</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/09/banner002.jpg"><img class="alignleft wp-image-1901" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/09/banner002-300x143.jpg" alt="Holistic Healing" width="542" height="259" /></a>Dewasa ini banyak sekali yang menawarkan holistic healing karena pada dasarnya semua penyembuhan terjadi karena Mind-Body-Spirit telah mencapai keselarasan.  Holistic berasal dari &#8220;Whole&#8221; yang berarti &#8220;menyeluruh&#8221;. Banyak sekali ketidakselarasan dalam hidup kita terjadi akibat pandangan yang salah, yang mengatakan bahwa penyembuhan hanya pada tataran fisik.</p>
<p>Apa yang dipancarkan oleh hati dalam kondisi yang &#8220;teduh&#8221; dan &#8220;bening&#8221; akan membawa tubuh kita mengenali dan memahami hakekat kesemestaan (universe) dalam merangkum esensi atau nilai dasar dari sebuah keselarasan. Tidak heran jika seseorang yang telah memasuki dimensi ini akan memperoleh kebijaksanaan dalam pandangannya dan membawa keteduhan dan kebahagiaan bagi sesama karena ilmu yang ia sampaikan melalui pikiran, ucapan dan perilakunya semua mengandung hakekat terdalam (filosofis).</p>
<p>Jika Holistic Healing disematkan pada nama keilmuan yang dipelajari seperti Reiki atau Prana Shakti misalnya, artinya kita baru memasuki pengenalan akan bentuk atau wujud dari keilmuan yang telah tercipta atas karsa (niat) pribadi yang mengamalkannya. Untuk menggenapi Holistic Healing, dibutuhkan pemahaman akan diri secara lebih intense baik melalui perenungan, meditasi, zikir dan sebagainya. Sehingga pada saatnya karsa menyatu dengan ruh praktisinya, maka ia akan memasuki pencerahan (enlightenment) secara spiritual.  Seyogyanya para Master dunia penyembuhan holisik memiliki hal ini, jika tidak, sekalipun ia mampu mengakses teknik tingkat tinggi dalam penyembuhan atau dalam memberikan penyelarasan kepada muridnya, maka ia tidak jauh berbeda dengan para pemula karena ia hanya melakukan rutinitas atau aktivitas hanya berdasarkan gerakan fisik semata.</p>
<p>Jika kita mengingat sebuah siklus dalam kehidupan maka yang kita lihat kesehatan dan penyembuhan itu merupakan serangkaian  fase pemulihan secara  spiritualitas yang pada awalnya membawa diri kita secara lahir dan bathin terhubung dengan apa yang kita namakan &#8220;Aku&#8221; atau &#8220;Ego&#8221;. Banyak ke &#8220;Aku&#8221; an yang selama ini kita bawa menjadi &#8220;beban&#8221; menuju peningkatan kadar spiritualitas.  Kemelekatan ini bahkan tidak jarang menjadikan kita lupa akan adanya Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa atas segala yang ada di alam semesta ini. Semakin tinggi atau semakin luas wawasan dan pengetahuan atas suatu keilmuan, ke &#8220;Aku&#8221; an pun akan mengikuti dan menempel semakin erat. Sehingga kita merasa bahwa kita lah yang memiliki kemampuan dan kita lah yang menentukan segalanya.</p>
<p>Di sisi lain, penulis mengamati bahwa ada 1% dari orang-orang biasa yang memiliki kesempatan 99% untuk menjadi lebih cerah dibandingkan mereka yang merasa sudah paling pintar. Orang-orang biasa ini memiliki ciri-ciri seperti menjalankan aktivitas duniawi dan spiritual dengan cara &#8220;sederhana&#8221; juga, tidak ribet. Kesederhanaan mereka bukan dibuat-buat karena itulah cerminan dari kesahajaan mereka sehar-hari. Ketika mereka menjalankan ibadah, berzikir, melakukan meditasi atau apapun sesuai dengan keyakinannya, maka mereka menjalankannya dari dalam hati mereka, bukan karena mereka mengharapkan dan membayangkan &#8220;hadiah&#8221; dalam bentuk apapun. Di sinilah letaknya kepasrahan/ keikhlasan itu terjadi.  Tak heran jika banyak hidayah yang mereka peroleh dan merekapun mengalami proses kebangkitan spiritual dengan cepat.</p>
<p>Untuk menjadi seorang Holistic Healer dalam sudut pandang Healer-Pasien saja tidaklah sulit. Bahkan tidak butuh waktu berhari-hari mempelajarinya. Namun untuk menjadi seorang Holistic Healer sejati ia akan menempatkan dirinya dalam perspektif spiritualitas yang membawanya ke dimensi yang lebih tinggi dari sekadar Healer-Pasien tersebut. Dalam kondisi ini, dimanapun dan kapanpun ia berada maka banyak energi positif/ Ilahiah yang akan terpancar dari seluruh tubuhnya mulai dari pikirannya, ucapannya dan perbuatannya. Dan hal ini menjadi berkah bagi orang-orang di sekelilingnya, termasuk mereka yang &#8216;berjodoh&#8217; untuk bertemu dengannya atas izin Tuhan YME.</p>
<p>Semoga artikel ini bermanfaat dan memberikan hikmah khususnya bagi para pembelajar Holistic Healing sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/hakekat-holistic-healing-dalam-dimensi-spiritual/">Hakekat Holistic Healing dalam Dimensi Spiritual</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/hakekat-holistic-healing-dalam-dimensi-spiritual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Mata Ketiga Mendapat Petunjuk Ilahi</title>
		<link>https://masterholistic.com/ketika-mata-ketiga-mendapat-petunjuk-ilahi/</link>
		<comments>https://masterholistic.com/ketika-mata-ketiga-mendapat-petunjuk-ilahi/#respond</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2015 04:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Adriansyah]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Parapsychology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masterholistic.com/?p=2054</guid>
		<description><![CDATA[<p>Para pembaca artikel yang budiman, pada kesempatan ini penulis ingin berbagi mengenai keadaan atau kondisi mata ketiga (ajna) yang mendapatkan &#8216;pencerahan&#8217; atau petunjuk Ilahiah.  Kok aneh ya? Apa maksudnya? Cukup banyak orang yang mengaku telah &#8216;terbuka&#8217; mata ketiganya sehingga mereka bisa melihat makhluk astral (ghaib) di suatu tempat seperti jin, hantu, kuntilanak, genderuwo, penunggu rumah, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/ketika-mata-ketiga-mendapat-petunjuk-ilahi/">Ketika Mata Ketiga Mendapat Petunjuk Ilahi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/09/heaven-stairs.jpg"><img class="alignleft wp-image-2055" src="http://masterholistic.com/wp-content/uploads/2015/09/heaven-stairs-300x249.jpg" alt="heaven stairs" width="400" height="332" /></a>Para pembaca artikel yang budiman, pada kesempatan ini penulis ingin berbagi mengenai keadaan atau kondisi mata ketiga (ajna) yang mendapatkan &#8216;pencerahan&#8217; atau petunjuk Ilahiah.  Kok aneh ya? Apa maksudnya?</p>
<p>Cukup banyak orang yang mengaku telah &#8216;terbuka&#8217; mata ketiganya sehingga mereka bisa melihat makhluk astral (ghaib) di suatu tempat seperti jin, hantu, kuntilanak, genderuwo, penunggu rumah, dan sejenisnya.  Namun, berapa persen kah yang pernah melihat dimensi tinggi seperti alam malaikat dan alam para Ascended Masters (termasuk para enlightened human spirits / dewa) ?  Mungkin hanya sedikit sekali yang menjawab pernah dan itupun cukup banyak keraguan dalam diri orang tersebut untuk menjawab dengan pasti. Beda dengan mereka yang merasa pernah melihat alam rendah seperti golongan jin, hantu dan sebagainya, bukan ?</p>
<p>Hal ini lumrah terjadi karena beberapa faktor berikut:</p>
<ul>
<li>Sugesti dari pikiran bawah sadar yang sejak dari kecil ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya mengenai &#8216;dunia bawah&#8217; tersebut sehingga tercipta &#8216;anchor&#8217; yang pada saatnya akan memunculkan entitas ghaib golongan &#8216;bawah&#8217; juga (kondisi bagi mereka yang merasa bisa melihat namun ternyata &#8216;terhalusinasi&#8217;)</li>
<li>Dimensi yang diakses oleh para clairvoyance disibukkan dengan makhluk dunia bawah tersebut. karena mereka &#8216;memang&#8217; lebih mendominasi lingkungan yang sekarang didiami oleh manusia.  Dengan merosotnya keadaan/kondisi bathin dan kemungkaran dimana-mana, maka energi negatif yang tersebar di banyak tempat sampai dengan yang terdekat pada diri setiap orang memicu munculnya entitas ini.  Namun pola pemunculannya tidak selalu sama, dan umumnya mereka muncul saat vibrasi energi positif kita melemah dan mereka mendapatkan lebih banyak &#8216;nutrisi&#8217; untuk masuk ke dimensi kita.  Tak jarang terjadi &#8216;benturan&#8217; antar dimensi yang menyebabkan sebagian dari kita yang mengalami masalah.</li>
</ul>
<p>Sedangkan dimensi tinggi yang lebih banyak menyentuh alam malaikat dan ascended masters, lebih banyak &#8216;ditemukan&#8217; atau setidaknya &#8216;dirasakan&#8217;oleh mereka yang juga sering melatih olah spiritual dan praktek-praktek yang positif seperti sering memancarkan cinta kasih dan kasih sayang universal, dan senantiasa melatih diri dengan berbagai teknik pembersihan (purification) misalnya melalui meditasi, zikir, dan sebagainya.  Hal ini membuka secara telepatik hubungan antara dimensi manusia dan dimensi tinggi melalui jalur-jalur spiritual tubuh yang sudah tercerahkan termasuk melalui proses perputaran &#8216;roda&#8217; (chakra) ilahiah yang sempurna.</p>
<p>Ada beberapa sinyal atau &#8216;penampakan&#8217; dari dimensi tinggi yang bisa ditangkap oleh manusia, antara lain:</p>
<ul>
<li>melalui panca indera, misalnya melalui penglihatan (koordinasi harmonis mata ketiga dengan mata lahiriah) untuk dapat melihat entitas malaikat dan/atau ascended master; atau pendengaran (misalnya mendengarkan &#8216;suara&#8217; dimensi tinggi); atau rasa (misalnya tubuh yang diangkat oleh malaikat ke suatu tempat dan kemudian kembali dalam ke tempat semula lalu terasa nafas kita yang benar-benar baru saja mengalami perjalanan spiritual)</li>
<li>melalui penglihatan mata pada batu atau mustika yang kadang-kala menampakkan kebesaran Ilahiah, seperti lafadz atau simbol-simbol sakral</li>
<li>melalui pancaran yang dimunculkan seseorang yang telah mencapai pencerahan misalnya halo atau bisa berupa pancaran cahaya/ sinar yang berada di atas chakra mahkotanya. Biasanya hal ini terjadi ketika orang yang bersangkutan sedang memberikan nasihat atau uraian spiritual dan sinyal ini ditangkap oleh orang (yang memiliki kemampuan mata ketiga) juga saat melihat orang tersebut sedang berbicara.</li>
<li>dan lain-lain</li>
</ul>
<p>Beberapa poin di atas dipaparkan oleh penulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan.  Mungkin tidak semua orang bisa memasuki dimensi ini namun setidaknya kita bisa berbagi.  Tujuan dari paparan ini adalah untuk mengajak kita semua bersama-sama meningkatkan spiritualitas kita dengan teknik yang kita miliki dan yakini.</p>
<p>Tuhan YME memberikan kepada makhluk ciptaan Nya berbagai kelebihan dan ketika kita secara spiritual terhubung dengan dimensi-dimensi itu maka saat itu seyogyanya kita mengucapkan puji syukur dan terimakasih karena Dia telah memberikan hikmah bagi hidup kita.  Ketika kita seringkali melihat alam/dimensi atau entitas bawah seperti jin, hantu, dan sebagainya, maka kita lebih perbanyak istighfar dan memohon ampunan karena mungkin kita kurang melatih atau memperbaiki spiritualitas kita dan kita bisa mengambil hikmah bahwa alam atau entitas itu memang ada sehingga perlu kita kembangkan kebajikan untuk kembali mencerahkan diri dan lingkungan kita.</p>
<p>Demikian pula ketika kita pernah walaupun satu atau dua kali diberikan penglihatan atas dimensi atas (malaikat dan ascended masters), maka kita wajib bersyukur karena kita bisa melihat sebuah dimensi positif yang mencerahkan kita secara spiritual. Kita dituntut untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta agar senantiasa memiliki aura positif dan bisa membantu sesama yang membutuhkan.</p>
<p>Menurut penulis, sering terjadi kerancuan dalam pemikiran sebagian orang terutama yang berkecimpung dalam dunia ghaib ketika mereka menggunakan bantuan atau memanfaatkan entitas dari alam bawah.  Mengapa?  Karena entitas tersebut pun sebenarnya tidak memiliki kemampuan penyembuhan yang sejati, bahkan tak jarang energi negatif yang mereka pancarkan memiliki vibrasi yang menjauhkan diri praktisi dan pasien mereka dari memperoleh pencerahan Ilahiah.</p>
<p>Dari artikel ini penulis hanya ingin mengingatkan kita semua untuk berpacu dalam kebaikan, meningkatkan welas asih dan kasih sayang kepada sesama, terus melakukan pembersihan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan YME agar kita bisa hidup harmonis dan selaras dengan alam semesta dan kehenda Ilahi sehingga kita memperoleh keselamatan dunia akhirat. Amin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com/ketika-mata-ketiga-mendapat-petunjuk-ilahi/">Ketika Mata Ketiga Mendapat Petunjuk Ilahi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://masterholistic.com">Master Holistic</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://masterholistic.com/ketika-mata-ketiga-mendapat-petunjuk-ilahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
