Tipu-tipu Dunia bukan dari Tuhan

uang-seratusan-ribu-rupiahSejak zaman dulu hampir di seluruh dunia dikenal istilah magic atau sihir, adapula sulap dan sebagainya. Kalau boleh dikatakan bahwa mereka memiliki benang merah yakni semua terkait dengan benda atau hal-hal yang bersifat duniawi. Ciri-ciri utamanya adalah :

  1. Membuat orang lain menjadi takjub, biasanya dalam sebuah pertunjukan/ demo
  2. Menggunakan baik terlihat maupun tidak terlihat trik atau jaringan penipuan
  3. Untuk meyakinkan seringkali dibawa ke ranah mistis atau hiburan panggung
  4. Dilakukan dengan niat ‘menunjukkan’ kehebatan seseorang, sehingga secara psikologis orang lain percaya kelebihannya
  5. Output yang dihasilkan adalah keheranan, ketakjuban dan lain-lain menyangkut benda-benda yang secara ’emosional’ atau ‘pikiran bawah sadar’ sangat dibutuhkan atau jasa yang memperlihatkan ‘kesaktian’ secara di luar nalar.

Sebenarnya ada pertunjukan sulap yang telah dibuka rahasianya seperti di televisi, baik menggunakan alat-alat sulap yang canggih, memanfaatkan tipuan optik, dan sebagainya. Dari hal ini muncul pemahaman bahwa sulap itu bukan anugrah Tuhan kepada seseorang secara spiritual.

Berbeda dengan sulap, sihir diyakini terjadi karena bantuan jin atau setan. Misalnya memindahkan sebuah benda dari satu tempat ke tempat lain, menutup pandangan dari seseorang sehingga orang tersebut tidak terlihat, dan sebagainya.  Tidak semua jika kita ingin menggunakan analisa dan berpikir logis, keanehan itu dapat dikatakan sebagai sihir. Ada cukup banyak fenomena yang belum tergali dan perlu dibuktikan secara empiris, sebelum sampai pada kesimpulan.  Perkembangan teknologi seperti yang dilakukan di layar kaca untuk menghilangkan seekor gajah yang besar dilapangan ternyata tidak lebih dari sulap dengan menggunakan latar belakang tipuan dan beberapa orang yang menggerakkannya. Terlepas dari sepersekian detik acara tersebut dialihkan dari scene ke scene.

Hipnotis panggung seperti namanya adalah hiburan. Secara alami, keajaiban yang timbul seperti kemampuan seseorang bisa melihat makhluk halus atau benda lainnya adalah efek dari halusinasi. Ada persiapan sebelum tayang di televisi yang disiapkan oleh panitia agar pada orang-orang yang secara selektif telah di tes kedalaman trance nya diberikan anchor (jangkar) dalam pikiran bawah sadarnya sehingga hanya dengan satu aktivasi anchor kinestetik atau suara tepukan atau jentikan jari tangan, maka orang (subject) tersebut langsung mengakses pada kondisi yang telah dibuat sebelumnya. Namun, adakalanya seorang ahli hipnotis bisa melakukan tanpa persiapan dan langsung di hadapan publik namun tingkat keberhasilannya dan jenis ‘permainannya’ mungkin tidak sebagus yang telah dipersiapkan sebelum acara tv tersebut.

Efek ini kadangkala dianggap sebagai pembukaan mata ketiga dalam beberapa teknik tradisional yang masih menggunakan mantra atau ritual. Itulah kekuatan pikiran bawah sadar manusia yang sesungguhnya karena ternyata kita secara sadar maupun tidak sadar, apalagi memang memiiki sugestivitas tinggi, akan melalui proses tersebut apalagi telah dilakukan teknik induksi, hypnotic training dan sugesti.  (Penulis tidak menutup kemungkinan adanya orang-orang yang dianugerahi dengan mata ketiga yang bagus sejak lahir, dan ada yang mengembangkannya melalui meditasi atau dzikir, namun untuk realisasinya melihat apa dan sejauh mana, semua kembali kepada izin Tuhan YME).

Lalu, apa yang disebut dengan anugerah Tuhan, seperti mukjizat maupun karomah?  Dalam literatur Islam, disebukan bahwa mukjizat hanya dimiliki para nabi sedangkan alim ulama atau wali diberikan karomah. Tetapi, dari sudut pandang pribadi penulis, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dalam menilai anugrah tersebut, antara lain:

  1. Sebagaimana potensi yang telah diciptakan oleh Tuhan YME, maka kemampuan yang terbangkitkan karena seseorang mendapatkan anugrah dari Sang Pencipta adalah ketika orang tersebut lebih sering melihat ke dalam dirinya, menjauhi riya dan nafsu-nafsu rendah. Sehingga mereka hanya berharap ridho Ilahi.  Orang-orang seperti ini tidak akan show off atau pamer karena mereka tahu Tuhan tidak menyukai orang sombong, penipu dan senang hidup mengejar nafsu duniawi.
  2. Kemampuan atau anugrah tersebut biasanya terkait dengan reaksi alam semesta atas doa-doa yang dipanjatkan orang-orang terpilih tersebut, Misalnya ada nabi yang atas izin Nya bisa membelah lautan, adapula yang tidak hangus terbakar sekalipun dibakar hidup-hidup tetap selamat. Adapula yang mampu mengirimkan doa menyembuhkan orang lain seberat apapun penyakit orang tersebut, bahkan ada yang bisa menghidupkan orang yang telah meninggal. Mukjizat ini terjadi karena mereka telah sangat dekat dengan Sang Pencipta. Karomah para wali juga demikian terutama dengan berbagai doa dan niat baik untuk membawa seseorang menuju pencerahan spiritual, baik dimulai dari penyembuhan penyakit, menurunkan hujan, menyuburkan tanaman di tempat tandus, dan sebagainya.  Dan biasanya hanya beberapa orang saja atau kelompok orang saja yang melihat dan tahu.  Kemampuan yang luar biasa ini melampaui batas-batas logika manusia, namun setelah mengalaminya mereka secara spiritual tercerahkan, bukan sebaliknya mabuk urusan dunia dan nafsu rendah.

Dengan penjelasan di atas, sudah sewajarnya kita tidak mudah mengklaim sebuah keajaiban adalah mukjizat atau karomah. Kesimpulannya:

  1. Ketika keajaiban bersumber dari pikiran, ucapan dan perilaku yang selaras, penuh kasih sayang dan cinta kasih kepada semua makhluk, maka tingkat spiritualitas sejati akan muncul dan inilah yang dimiliki para nabi dan wali. Bukan dari ketamakan, keserakahan, kebencian, kemarahan dan keangkuhan.
  2. Banyak keajaiban muncul dalam hal urusan duniawi karena berbagai kebohongan, penipuan dan trik sulap. Sebagian lagi yang bersekutu dengan jin akan menggunakan jin untuk memenuhi ambisinya sehingga banyak orang terjerumus pada hal yang tidak kekal, membuat mereka menjadi egois, ingin jalan pintas, dan tamak.
  3. Berpikirlah secara logis dan tidak langsung terkesima oleh sebuah keajaiban. Selain mata yang dipakai melihat langsung cobalah untuk mengamati dan memahami, juga nalar /rasionalitas, probabilitas, dan sebagainya dengan berdasarkan pada hukum sebab-akibat.

 

Semoga mencerahkan !