Spiritualitas terlihat dari warna Aura

meditasiDalam artikel-artikel sebelumnya, telah cukup banyak dibahas mengenai aura. Sekilas saja, sederhananya yang kita namakan aura adalah warna dari chakra yang berputar di tubuh eterik kita.  Dari pengamatan penulis dari pandangan clairvoyance, sebenarnya yang terlihat di lapisan tubuh eterik, chakra-chakra tersebut berputar dan terlihat sebagaimana warna tubuh eterik itu sendiri, namun pancarannya tercermin pada ‘bodyline’ kita yakni pada sekitar kepala, bahu, pundak dan lengan (saat kita melihat seorang subyek yang sedang duduk). Dengan kata lain, warna-warna aura lebih terlihat jelas di atas lapisan tubuh eterik yang berwarna putih.

Warna aura pada dasarnya ada tujuh, yakni merah (chakra dasar), jingga (chakra seks/ sakral), kuning (chakra pusar), hijau (chakra jantung), biru (chakra tenggorokan), ungu (chakra mata ketiga/ ajna), dan violet (chakra mahkota).  Dari tujuh chakra utama yang kita miliki, tiga chakra pertama (chakra bawah) yakni chakra dasar, seks dan pusar adalah chakra duniawi dimana pemilik chakra ini memiliki dominasi pada kehidupan duniawi atau lahiriah, energik, semangat, produktif, dan tak kenal lelah. Namun buruknya adalah mereka mudah sekali tergoda dengan semua kenikmatan dan permainan duniawi karena kecendrungan menggunakan kercerdasannya untuk memenuhi hasrat duniawi dengan cara apapun.  Sedangkan, chakra ke empat sampai ke tujuh (chakra jantung, tenggorok, mata ketiga dan mahkota) adalah chakra spiritual atau batiniah.  Orang yang dominan memiliki warna aura ini memiliki keseimbangan bathin yang lebih baik, termasuk kesadaran untuk berkembang bersama dengan yang lain melalui cinta kasih dan kasih sayang, idealis, intuitif, inovatif karena memiliki kreativitas atau daya hayal yang tinggi serta memiliki kesadaran spiritualitas yang lebih tinggi.  Sayangnya, kelemahan mereka adalah sensitif, keras kepala (karena memegang prinsip), kurang realitis dan mudah tertipu karena sifatnya yang memandang orang lain secara naif.

Eitt… tapi kita tidak bisa melihat semua orang hitam dan putih seperti uraian di atas, karena warna-warna aura itu ternyata berproses. Dari pengamatan penulis, memang tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar ketidakselarasan chakra terjadi akibat pikiran, ucapan dan perbuatan yang tidak selaras misalnya karena sering berbohong, menghabiskan sebagian besar waktu untuk memuaskan nafsu duniawinya, mencuri, dan sifat munafik. Hal ini berakibat pada perputaran chakra yang lebih cepat pada chakra-chakra bawah dibanding chakra-chakra atas.  Padaa gilirannya, setelah mengalami berbagai ujian, cobaan atau bahkan hukuman, mereka mulai insyaf, sadar dan mengurangi sifat dan perbuatan buruk mereka. Hal ini butuh waktu sehingga tidak jarang setelah insyaf, terus dibuat lagi dan seterusnya.

Yang memberikan mereka warna aura atas yang lebih dominan adalah perubahan sifat dan sikap termasuk pola pikirnya.  Sekalipun terlihat tidak ‘seagresif’ pemilik aura berwarna merah, jingga dan kuning dalam mencari harta kekayaan, namun pemilik warna aura spiritual ini sebenarnya mendapatkan banyak kelancaran dan kemudahan dalam memenuhi kebutuhannya.  Jika mereka sebelumnya sudah ‘on the track’ dan memiliki kemampuan ekonomis yang tinggi, maka mereka akan memenuhi hasrat terdalam mereka untuk lebih berbagi kepada sesama. Namun, mereka yang sejak lama sudah terlibat dalam urusan spiritualisme, mereka biasanya akan menghadapi dua hal, yakni terus lanjut menjadi seorang yang tercerahkan, atau ‘jatuh kembali’ karena sifat dan sikap arogansi dan pamer (riya). Sekalipun yang kedua ini bisa memiliki warna aura tinggi namun mereka tidak belum bisa mencapai spiritual enlightenment (pencerahan spiritual) dan warna aura merekapun terlihat lebih tipis dari mereka yang konsisten menjalankan kehidupan sebagai spiritualis sejati.

Penulis pernah menemukan seseorang pengusaha yang sebelum mendapatkan penyelarasan (abhiseka dan shaktipat) dari penulis memiliki warna aura dominan merah (melalu foto aura), dan ketika setelah mendapatkan penyelarasan spiritual kemudian ia menemukan warna-warna aura yang tertangkap kamera aura sudah terjadi perubahan menuju ke warna chakra atas (hijau, biru dan ungu).  Ia sempat kaget dan bertanya kepada salah seorang paranormal. Sayangnya si paranormal pun tidak memahami hakekat dari warna aura sehingga ia mengatakan bahwa orang itu akan menemukan kegagalan dalam usahanya karena warna merah (duniawi) nya sudah tidak terlihat lagi.  Apa benar begitu ?

Sebagai informasi bagi para pembaca, pendapat demikian sebenarnya tidaklah benar, karena sekalipun ia mengalami ‘pencerahan’ dan memiliki warna aura tingkat atas, orang itu tidak serta merta akan bangkrut usahanya. Mengapa?  Karena ia mulai memasuki ‘dimensi’ spiritualitas yang lebih baik, misalnya dengan lebih banyak berbagi kepada sesama. Jika dulu mungkin ia menggunakan 1001 akal untuk mendapatkan keuntungan bisnis (baik dan buruk dijalankan), namun dengan perubahan warna aura ini setidaknya ia telah memiliki kesadaran ‘kosmik’ yang menuntunnya untuk lebih mencari yang lebih baik. Ingatlah hukum alam sendiri mengatakan bahwa semakin banyak dan ikhlas kita membantu orang lain dari segi material, maka lebih deras pula pemasukan kita.  Jadi, kesimpulan bahwa warna aura spiritual tidak membawa kebahagiaan dari segi materi ternyata tidak tepat.  Tetapi, jika mereka tidak menggunakan harta mereka dengan bijak, mudah tertipu dan sebagainya, tentu mereka akan mendapatkan kemerosotan dari segi materi.  Oleh sebab itu, kita perlu mencermati dengan lebih seksama setiap fenomena dan tidak bisa di generalisasi.

Di sisi lain, penulis juga pernah melihat beberapa orang yang secara spiritual memiliki atribut ‘spesial’ dari warna-warna aura yang mereka pancarkan:

  • ternyata tidak semua orang biasa itu warna aura spiritualnya lebih rendah daripada sebagian dari mereka yang dikenal banyak orang sebagai lama berkecimpung dalam dunia ‘agama’. Mohon maaf, penulis ingin menyampaikan bahwa dalam pandangan waskita, ternyata ada sebagian orang yang masuk dalam kelompok kedua yang tidak konsisten, tidak amanah dan munafik.  Sedangkan ada orang biasa, bahkan seorang ibu rumah tangga atau pekerja kelas bawah, mereka memiliki warna aura spiritual yang lebih tinggi.  Bahkan salah satu dari mereka yang belajar Prana Shakti dengan penulis, setelah mendapatkan abhiseka dan shaktipat, praktisi itu mencapai tataran spiritual yang tidak banyak diperoleh oleh orang lain termasuk orang dari kelompok kedua, yakni munculnya ‘halo’ di atas chakra mahkotanya.  Namun, penulis tidak heran sebab penulis bisa ‘merasakan’ dan ‘membaca’ berbagai latihan spiritual yang selama ini ia lakukan sekalipun sederhana namun konsisten sehingga ia bisa memasuki kesadaran/pencerahan.
  • Ada beberapa orang lain yang, mohon maaf, bicaranya tinggi seolah-olah dia sudah bisa melakukan banyak hal, ternyata memiliki warna aura spiritual yang tidak sebanding dengan ucapannya. Bahkan kemampuan orang tersebut yang sempat menyombongkan diri di depan penulis dengan membuat ‘bola energi’, ternyata tidak membuat kundalininya bangkit menembus chakra mahkota. Ia kaget ketika penulis mengatakan hal itu sebab dari informasi yang ia peroleh dari banyak reiki master yang dikenalnya, ia mendapat pujian karena ‘katanya’ api kundalininya sudah tembus chakra mahkota dan sangat ‘besar’ – karena ia merasa tubuhnya panas dan ‘bisa’ mengobati orang yang sakit (hmmm…) .  Namun, setelah ia mendapatkan penjelasan dari penulis, ia akhirnya menerima kenyataan bahwa yang ia rasakan itu bukanlah kenaikan kundalini yang sesungguhnya.

Demikian artikel ini penulis sampaikan, semoga bisa memberikan kita pencerahan dan bijak memaknai warna-warna aura yang kita ketahui.