Ketakutan itu muncul dari Pikiran

ketakutan Ketika masih kecil banyak anak-anak merasa takut ketika dikatakan ada hantu, ada wewe gombel, ada setan gentayangan dan lain-lain.  Hal ini berawal dari apa yang diucapkan oleh orang tuanya atau saudara-saudaranya sendiri karena anak kecil seringkali bermain di luar rumah menjelang maghrib atau supaya anak betah di rumah, misalnya. Dengan nada bicara yang “menakut-nakuti” si anak mudah sekali tersugesti dan akhirnya kejadian yang berulang-ulang ini menjadi anchor di pikiran bawah sadarnya.  Ini adalah anchor negatif dan tidak memberdayakan bagi tumbuh kembang anak secara psikologis.

Saat dewasa rekaman dari sugesti-sugesti yang ditanamkan oleh orang tua atau keluarga di pikiran bawah sadar sejak kecil akan berproses terus. Bagi sebagian anak perempuan yang mendapatkan tekanan psikologis dari keluarga atau lingkungannya seperti sekolah atau dari teman-temannya yang sering mem “bully” nya, bisa berakibat pada gangguan emosional sehingga ia mudah merasa takut, bahkan dalam situasi tertentu ketika terjadi luapan emosi akibat perasaan yang dipendam terhadap seseorang atau sesuatu sudah sekian lama, maka hal ini bisa mengakibatkan anak perempuan itu mengalami fenomena kesurupan atau kerasukan, berteriak-teriak histeris dan kejang-kejang.

Mengapa biasanya kesurupan atau kerasukan lebih sering dialami oleh anak perempuan daripada anak laki-laki?  Salah satu faktor dominan menurut penulis karena anak perempuan lebih sensitive, lebih sugestif karena dominan menggunakan perasaan ketimbang logika atau rasionya.  Sementara itu, rasa takut berada di wilayah pikiran bawah sadar yang memiliki kaitan langsung dengan perasaan. Sebaliknya, anak laki-laki yang tumbuh secara normal di keluarga yang tidak terlalu memanjakannya akan memiliki pola pikir yang berbeda karena biasanya dari kecil sering diingatkan bahwa anak laki-laki itu tidak boleh menangis (cengeng), harus bisa menjaga adik perempuannya, harus bisa mandiri, dan sebagainya. Sugesti-sugesti positif ini secara langsung maupun tidak langsung akan memberdayakannya.

Kembali pada konsep rasa takut yang merupakan salah satu bentuk emosi negatif yang ada pada diri kita, pada dasarnya masih wajar-wajar saja ketika kita berhadapan dengan binatang buas seperti harimau, singa dan binatang melata seperti ular. namun ketakutan berlebih (phobia) terhadap binatang padahal binatangnya tidak ada di depan mata, sudah merupakan gangguan psikologis yang berat dan perlu ditangani misalnya melalui hypnotherapy. Kesalahan pemrograman sejak kecil yang sering menakut-nakuti seorang anak terhadap tikus, cacing dan kecoak memberikan kontribusi pada terjadinya fobia sekalipun pemicu fobia ini pada usia dewasa lebih banyak ditemukan pada mereka yang pernah mengalami “pertemuan yang tidak diharapkan”, misalnya, lagi duduk santai tiba-tiba ada tikus dari loteng jatuh tepat di atas kepalanya, atau ketika berjalan-jalan dengan keluarga atau teman di hutan, tiba-tiba melihat ular di sebelah dia bersandar di sebuah pohon.  atau bahkan menginjak binatang itu secara tidak sengaja, sehingga terjadi shock atau kaget yang berlebih.

Pengetahuan mengenai pikiran bawah sadar, mekanisme terjadinya fobia, trauma dan lain-lain sebenarnya sangat penting bagi semua orang, karena ini berkaitan dengan masalah psikologis yang sering ditemukan.  Namun, kadang kala ada sebagian orang yang malah menarik diri dari mengenal ilmu pengetahuan yang berharga ini dengan berbagai alasan, yang sebenarnya alasan tersebutpun bisa membentuk anchor negatif dalam pikiran bawah sadar.  Di satu sisi, ia akan berhadapan dengan realita dari faktor pemicu terjadinya fobia atau trauma, di sisi lain, ia menciptakan persepsi negatif dalam pikirannya terhadap pengetahuan yang bersifat memberdayakan. Memang, untuk mempelajari hypnosis, disarankan untuk belajar dari asosiasi profesi hypnosis atau hypnotherapy yang didasarkan pada keilmuan psikologi, bukan mistik atau klenik.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.