Guru Holistik Ciptakan Murid Holistik

siswa-smaPara pembaca yang budiman, kali ini penulis ingin berbagi mengenai Guru Holistik dan Murid Holistik. Istilah baru yang mungkin belum pernah didengar atau dibaca pada artikel-artikel lain sebelumnya.

Penulis merasa cukup prihatin menyaksikan perkembangan pendidikan di tanah air yang mungkin sudah kurang menitikberatkan pada pendidikan moral, sopan santun, dan etika. Penulis juga sempat merasakan menjadi guru di sekolah nasional plus dan pada awalnya kaget karena merasa cukup banyak murid-murid yang kurang menghargai guru-gurunya. Apakah memang karena adanya unsur komersialisasi penddikan yang menyebabkan sekolah-sekolah lebih dominan mencari sebanyak-banyaknya murid dan kurang memperhatikan pendidikan holistik?

Alangkah baiknya jika para guru di sekolah mulai dari Playgroup, TK, SD, SMP sampai SMA memiliki fokus pada pengembangan guru agar memiliki kemauan dan kompetensi tidak hanya menguasai materi yang diajarkan dan memberi sanksi kepada murid karena dianggap bersalah, tidak mengerjakan PR, dan sebagainya.

1. Dari tingkat paling bawah, yakni di Playgroup/ PAUD dan TK, sasaran utama proses belajar-mengajar bukan memberikan hukuman/sanksi kepada murid, sebab tanggungjawab para guru untuk merubah pola berpikir dan perilaku anak didiknya. Misalnya, jika ada muridnya yang ngobrol selama pelajaran, yang dikedepankan adalah membuat strategi agar anak-anak tersebut tidak saling berdekatan dan memberikan beberapa simulasi yang membuat mereka paham bahwa di ruang kelas berbeda dengan saat di luar kelas (waktu istirahat). Sangat disayangkan bila guru-guru anak seusia mereka, ada guru-guru yang  kurang rajin berpikir untuk memberi nilai dan mengubah perilaku, tetapi hanya mengandalkan emosi atau bahkan cuek sama sekali. Sanksi kepada murid mungkin bisa dikatakan cerminan atas usaha atau upaya gurunya sendiri. Ketika mereka mengandalkan orang tua di rumah saja untuk bertanggungjawab, maka banyak kegagalan yang ditemui.

2. Untuk anak sekolah SD yang berusia 7 sampai 12 tahun, secara psikologis anak-anak belum bisa dianggap sudah bisa bersikap seperti orang dewasa. Mereka memang telah memulai pendidikan dasar formal dan menuntut keseriusan belajar. Tapi mereka tidak serta-merta juga melepaskan tanggung jawab misalnya pendidikan calistung kepada guru-guru TK karena di negara kita saat ini bahkan calistung bukan materi wajib di TK.  Yang penting adalah sekolah SD dan guru-gurunya memiliki keinginan untuk menjadi tonggak awal membentuk insan penerus bangsa yang seutuhnya baik dari segi moralitas dan perilaku. Mungkin sudah bagian dari tanggung jawab moral. Penulis juga memahami dilema yang mereka hadapi, namun perlu disikapi secara bijak. Secara pikiran bawah sadar, anak-anak mulai dari Playgroup,PAUD, TK dan SD masih tergolong anak-anak yang mudah dikembangkan karena sekalipun terlihat nakal sebenarnya mereka mudah sekali berubah ketika diarahkan secara baik dan tepat oleh para gurunya. Salah satu pendekatan yang penting adalah memahami sistem representasi setiap anak didik melalui Visual, Auditory atau Kinestetik masing-masing. Mungkin para guru membutuhkan juga teknik NLP for Teaching atau Hypno-Teaching. Sekolah perlu memfasilitasi dengan mengundang para trainer yang memiliki pengetahuan mengajar, dasar psikologi pendidikan anak dan pengalaman.  Ingatlah, anak-anak nakal sebenarnya anak-anak cerdas. Mereka ada yang tidak naik kelas bukan karena bodoh, namun karena guru maupun orang tua yang kurang mampu melihat potensi anak.

3. Anak sekolah SMP adalah anak yang sedang mengalami gejolak mencari jati diri. Berbagai perubahan dalam diri secara fisik maupun psikologis merupakan kendala yang merupakan tantangan (challenge) bagi para guru di sekolah. Jika salah menangani, misalnya hanya memberikan hukuman tanpa pemahaman atau nilai-nilai luhur, maka akan sangat merugikan para guru sendiri dan sekolah.  Ada banyak hal yang perlu diusahakan untuk mengubah kekerasan hati anak-anak, kenakalan remaja dan sebagainya, misalnya melalui ESQ, melatih meditasi atau kontemplasi, memberikan mereka pengetahuan melalui program video edukasi tentang remaja yang positif, menggunakan teknik NLP atau Hypno Teaching dalam bentuk simulasi yang tentunya tidak membuat bosan anak didik

4. Anak sekolah SMA sebenarnya sudah mengerti dan memahami realita dalam pendidikan dan dengan penanaman moral yang baik agar bisa meraih cita-cita luhur, bukan dimotivasi dengan berbagai jalan singkat jadi kaya yang tidak dilandasi etika dan moralitas yang baik misalnya. Pendidikan lanjutan bagi siswa SMA itu adalah wajib. Berbeda halnya dengan mereka yang mengambil sekolah kejuruan misal SMEA, SMK teknik industri dan sebagainya, Siswa SMA pada dasarnya belajar berbagai pelajaran baik eksakta maupun noneksakta selain untuk bekal lanjutan di Perguruan Tinggi, juga memberikan mereka framework atau kerangka berpikir yang baik agar bisa memilih, memilah, mengkonsolidasi, menyimpulkan berbagai ilmu pengetahuan secara holistik.  Disarankan guru-guru SMA lebih meningkatkan communication skill yang nyaman, bukan otoriter. Pendekatan melalui ESQ, NLP, meditasi, Hypno-teaching maupun penggunaan fasilitas seperti proyektor dan sebagainya merupakan sebagian tools yang penting/ diperlukan.

Sengaja dalam artikel ini tidak diuraikan mengenai pendidikan tinggi sebab yang utama dalam pembentukan moralitas dan perilaku menurut penulis ada pada pendidikan dari paling bawah sampai SLTA.

Semoga artikel ini memberi sedikit warna dan membantu mencerahkan dunia pendidikan.