Cenayang 2: Melihat Makhluk Astral

ghostKali ini kita bertemu lagi dalam seri Cenayang, yang membahas sekilas mengenai makhluk astral. Memang penulis membuat judul yang agak ‘nendang’ karena kebanyakan pertanyaan mengalir dengan rasa ingin tahu apakah melihat makhluk astral itu bisa, mudah atau sulit dilakukan.  Terlepas dari cerita yang didengar para hobbyist ‘alam astral’ yang senang duduk di depan layar kaca, artikel ini mengungkap realitas dan beberapa tips bagi para penggemar dunia metafisik.

Di negara kita makhluk astral (bahasa keren dari makhluk halus), ada berbagai macam, mulai dari kuntilanak, genderuwo, wewe, sampai dengan pocong. Di antara kita ada yang meyakini keberadaan mereka begitu kuatnya, sedang-sedang saja, dan adapula yang tidak percaya.  Dari sisi ini saja sudah terlihat bahwa mereka yang begitu kuat mempercayai keberadaan makhluk tersebut biasanya memiliki traumatis tersendiri atau memang telah menjadi ‘gift’ sejak lahir.  Mereka yang sedang-sedang saja biasanya pernah melihat atau mendengar suara mereka namun tidak begitu terseret suasana karena mereka meyakini ‘keseimbangan’ alam semesta dari para penghuninya, dan memilih untuk biasa-biasa saja. Dan golongan ketiga yang tidak mempercayainya biasanya belum pernah mengalami pertemuan langsung dengan makhluk tersebut atau lebih memilih ‘ngurusin’ dunia materi saja.

Dalam sudut pandang penulis, ‘mereka’ itu memang ada. Sedikit ‘gift’ yang diberikan Tuhan YME menjadikan kita lebih dekat dengan semua ciptaan Nya dan tidak berbuat semena-mena. Tanpa ada keinginan ‘melekat’ dengan hal-hal berbau magis secara lebih mendalam, penulis menganggap ini hanya kebetulan belaka sekalipun pernah ada analisa yang diperoleh bahwa penulis memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan mereka (dalam artikel-artikel metafisik sebelumnya sudah pernah dimuat).

Kembali kepada judul artikel ini, tentunya membuat kita penasaran bagaimana sih kita bisa ‘melihat’ mereka?  Sebenarnya bukan hal yang sangat penting untuk berupaya ‘melihat’ mereka sebab semakin kita ingin memenuhi keingintahuan kita misalnya dengan belajar ritual mistis sampai hal-hal yang berbau klenik, maka kita semakin jauh dari ‘melihat’ mereka secara alamiah.  Beberapa yang ‘ngebet’ belajar ritual aneh malah mendapatkan dirinya terperangkap ‘halusinasi’ dan menjadi korban penggunaan obat-obat terlarang seperti narkoba atau jamur beracun yang biasanya membuat orang tersebut bisa ‘fly’ dan mengalami halusinasi.  Toh sebenarnya mereka pun secara vibrasi, kadangkala juga melemah energi atau vibrasinya sehingga mereka bisa tertangkap sensor manusiawi seperti melalui penglihatan dan pendengaran kita (orang yang mampu menangkap sinyal ini biasa disebut clairvoyance dan clairaudience).

Cara praktis dan aman melatih kepekaan sensorik untuk lebih mudah menangkap ‘vibrasi’ mereka adalah melalui teknik meditasi seperti Reiki, Prana Shakti dan sebagainya. Pembersihan jalur dan optimalisasi chakra memungkinkan kita melatih sensor inderawi kita. Sekalipun bukan tujuan akhir belajar meditasi namun banyak yang cukup berhasil mendapatkan pengalaman gratis baik ke alam astral maupun mengalami ‘pertemuan’ dengan mereka sesekali waktu.

Untuk melakukan pembuktian keberadaan makhluk astral yang paling sahih adalah ketika dua atau lebih orang secara terpisah bisa menceritakan sebuah fenomena astral pada saat yang bersamaan, tanpa ada perjanjian sebelumnya tentunya.  Ada beberapa pengalaman unik penulis yang salah satunya adalah ketika berada di sebuah rumah vila yang besar di daerah Lampung, dimana penulis bersama teman-teman yang saat itu baru tiba dari Jakarta beristirahat pada malam pertama di sana. Penulis ingat saat itu bersama beberapa teman berada di satu kamar tidur yang besar dan seorang teman lainnya sedang berada di ruang keluarga menyaksikan pertandingan piala dunia (sekitar tahun 2000 an awal). Peristiwa ‘astral’ ini terjadi saat sekitar pukul 2 dini hari, dimana terjadi mati lampu, teman yang sedang nonton tv tersebut sudah tertidur di sofa di ruang tamu dan kami sudah tertidur di kamar. Saat itu, penulis ingin sekali ke kamar kecil dan bangun menuju kamar kecil. Namun saat di ambang pintu kamar hendak keluar ke ruang tamu itulah penulis merasakan suatu yang aneh yang menghalangi penulis untuk melangkah lebih jauh keluar kamar. Ada suara angin yang begitu deras di ruang keluarga dalam keadaan mati lampu tersebut.

Ketika penulis mengurungkan niat dan ingin melangkah balik ke tempat tidur semula, lampu menyala kembali dan akhirnya penulis bisa melangkah keluar kamar menuju kamar kecil.  Di saat itu penulis melihat teman yang sedang tidur di sofa masih terlihat tidur di sana.  Keesokan harinya saat kami berkumpul untuk sarapan, teman saya ini tiba-tiba mengatakan ” Eh… semalam saat lampu mati saya kan lagi tiduran di sofa. Saya merasakan ada yang ‘menggelitiki’ telapak kaki saya. Namun karena saya takut saya biarin saja… sebentar kemudian lampu menyala…”   Cerita teman ini sungguh kebetulan sekali bertepatan dengan apa yang saya alami sendiri.  Artinya, detik dimana penulis berdiri di ambang pintu dan merasakan perubahan kondisi udara (berangin) malam itu, adalah saat dimana teman penulis sedang “dikerjain” oleh si makluk astral tersebut. (Bisa dibayangkan jika penulis memaksakan diri berjalan menembus gelap dan suara angin di depan kamar tadi, kemungkinan besar penulis bertemu dengan makhluk tersebut)

Di lain kesempatan penulis akan menceritakan pengalaman yang lebih seru terkait makluk dan alam astral ini seperti saat bertemu langsung dengan entitas ini, wujud dan teknik komunikasinya,  dan lain-lain.  Selamat membaca dan ikuti terus ceritanya.